10 SMK Rawan Kenakalan Pelajar

783
DIAMANKAN: Sejumlah siswa SMK diamankan karena diduga hendak tawuran di Jalan Dr Cipto Semarang, kemarin. (kanan) Senjata tajam jenis gobang yang dibuang di lokasi kejadian. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIAMANKAN: Sejumlah siswa SMK diamankan karena diduga hendak tawuran di Jalan Dr Cipto Semarang, kemarin. (kanan) Senjata tajam jenis gobang yang dibuang di lokasi kejadian. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

MUGASSARI – Sebanyak 187 sekolah tingkat menengah atas (SMA/SMK/MA) di Kota Semarang, belum semuanya memiliki rapor baik. Tercatat di kepolisian, 10 sekolah dikategorikan rawan permasalahan kenakalan pelajar.

”Kami ada datanya. Murid-murid sekolah tersebut, sering melakukan tawuran, lempar-lemparan batu dengan sekolah lain. Ada 10 sekolahan, kebanyakan sekolahan SMK,” kata Kepala Satuan Pembinaan Masyarakat (Binmas) Polrestabes Semarang, Restiana Pasaribu kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (25/1) kemarin.

Prihatin dengan kondisi tersebut, pihaknya berencana rutin melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah dengan Babinkamtibmas yang berjumlah 177 orang. Kunjungan tersebut selain melakukan pengecekan, juga untuk mengantisipasi kegiatan negatif para siswa yang dilakukan di dalam sekolah.

”Minimal satu minggu sekali petugas melakukan kunjungan rutin dan memberikan pengarahan. Sekaligus untuk mengetahui, apakah ada pelajar yang membawa senjata tajam di sekolah atau tidak, serta penertiban jam sekolah di luar,” katanya.

Menurutnya, langkah tersebut merupakan tindak lanjut dari apel dan penandatanganan deklarasi damai yang diikuti 187 sekolah menengah atas di Kota Semarang, di lapangan Polrestabes Semarang pekan lalu. Deklarasi damai tersebut di dalamnya menyebutkan komitmen bersama para pelajar untuk tidak melakukan tawuran ataupun pelanggaran yang menjurus pidana. ”Supaya tidak ada lagi tawuran, mereka bisa saling bersilaturahmi antarsekolah,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya mendorong persoalan kenakalan pelajar diselesaikan secara internal dalam Forum Kemitraan Polri dan masyarakat di sekolah masing-masing. Langkah tersebut menandai bahwa sekolah sudah punya payung hukum berupa FKPMS yang diketuai kepala sekolah dan petugas Binmas sebagai wakilnya.

”Penyelesaian dan antisipasi juga bisa dilakukan di masing-masing Polsek di wilayah hukum Polrestabes Semarang. Kami berharap jangan sampai mengarah pada tindak pidana,” harapnya.

Terpisah, Kapolsek Ngaliyan, Kompol Bero Suprihatin mengakui siap melakukan upaya pencegahan tindakan negatif anak didik atau pelajar. Bahkan, petugas piket Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) didukung operasional rutin akan terus melakukan pemantauan. ”Ini untuk pencegahan persoalan kenakalan pelajar,” katanya. (mha/ida/ce1)