Jadi Anggota, Tak Harus Bisa Menggambar Dulu

Lebih Dekat dengan Komunitas Lumpia Komik

835
KOMPAK: Anggota Komunitas Lumpia Komik selalu melakukan pertemuan rutin sebulan sekali di Taman Gajah Mungkur. (RIKA ANGGRAENI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KOMPAK: Anggota Komunitas Lumpia Komik selalu melakukan pertemuan rutin sebulan sekali di Taman Gajah Mungkur. (RIKA ANGGRAENI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Menyadari banyaknya komikus Semarang yang tidak terorganisir, mendorong Yuwanto, mahasiswa akhir Universitas Semarang mendirikan komunitas menggambar komik. Dia bersama keempat sahabat komikus yakni Johan, Ayub, Adif dan Reza akhirnya mendirikan komunitas Lumpia Komik pada 9 Maret 2014. Seperti apa?

RIKA ANGGRAENI

SEBELUM membentuk wadah komunitas, secara tak terkonsep beberapa komikus Semarang beberapa kali melakukan pertemuan informal. Semula melakukan gathering dadakan dengan membawa bendera sebuah web komik di depan gerbang kampus Undip. Kemudian, beberapa komikus melakukan pertemuan di sebuah acara seminar buku yang diadakan oleh sebuah penerbitan buku. Akhirnya, pada 9 Maret 2014, berlima sepakat membuat komunitas komik baru, Lumpia Komik.

Agar lebih mudah merangkul komikus dan pencinta komik Kota Semarang dan kota-kota lain di sekitarnya, komunitas ini tidak lagi mengusung bendera lama. ”Kami memilih nama lumpia yang merupakan makanan khas Semarang. Dengan nama itu, banyak orang bisa langsung paham kalau Lumpia Komik itu komunitas komik yang basecamp-nya di Semarang. Walau anggotanya dari luar Semarang seperti Pati, Boyolali, Salatiga dan lainnya,” kata mahasiswa jurusan ilmu komunikasi kepada Jawa Pos Radar Semarang.