Bisnis Tembakau Terancam Dicaplok Asing

351

SEMARANG – Pemerintah diminta untuk berhati-hati dalam menentukan langkah kebijakan terkait tembakau. Pakar ekonomi mengendus indikasi kuat adanya konspirasi global yang menjadi pertarungan politik besar dalam bisnis internasional. Hal itu menyebabkan kekayaan tembakau Indonesia akan dikuasai oleh kekuatan asing.

Guru Besar Ekonomi Universitas Diponegoro (Undip) Prof Purbayu Budi Santoso mengakui adanya indikasi politik internasional berupaya menguasai pasar tembakau Indonesia dengan berbagai cara. Sehingga hal itu menyebabkan tembakau di Indonesia terancam digantikan dengan tembakau luar negeri (impor). “Upaya itu sangat jelas. Pemerintah harus hati-hati, jangan sampai kebijakannya menyudutkan petani. Rokok bukan komoditi yang bisa disepelekan,” kata Prof Purbayu, kemarin.

Dia menyebut salah satu kebijakan yang akan merugikan petani tembakan adalah adanya perjanjian konvensi pengendalian tembakau melalui Frame Work Convention on Tobacco Control (FCTC) atau kerangka kerja penggunaan tembakau menjadi Undang-undang. “Salah satu poinnya adalah menurunkan kadar nikotin. Ini belum ratifikasi, tetapi nyatanya tetap impor tembakau asing,” ungkapnya.

Sebab, lanjut Prof Purbayu, tembakau sendiri memiliki sejarah yang merupakan tumbuhan obat-obatan. Tapi kenapa lambat laun berubah menjadi sumber penyakit. “Bukti-bukti banyak menyebut, pengidap penyakit jantung dan paru-paru bukan di negara rokok,” katanya.

Menurutnya, diperlukan keberanian untuk melawan aturan main atas perjanjian FCTC tersebut. Indikasi lain, kata Purbayu, kekuatan asing mencaplok pasar tembakau adalah akuisisi rokok Bentoel dan Djie Sam Soe Sampoerna sudah dikuasai Phillip Morris. “Ini sangat jelas. Jika dibiarkan, tembakan akan bernasib sama seperti halnya minyak kelentik (minyak goreng) zaman dulu yang hilang. Kita ditipu, makanya harus berani melawan,” tegasnya.

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jawa Tengah, Wisnu Brata, mengatakan sejauh ini kebijakan pemerintah masih sangat merugikan petani tembakau. “Pemerintah belum memiliki sistem pengaturan secara jelas. Pemerintah bebas impor tembakau dari sejumlah negara,” katanya.

Di antaranya impor tembakau dari China, Amerika Serikat, Zimbabwe, Turki, dan India. Tembakau asal luar negeri membanjiri pasar industri tembakau di Indonesia. Kondisi ini membuat para petani tembakau Indonesia terpuruk. “Para petani saat ini butuh duduk bersama dengan pemerintah,” katanya. (amu/smu)