Tak Berani Bicara Emas

405
TINGGAL KENANGAN: Petenis Jateng Wisnu Adi Nugroho saat merebut medali emas tunggal putra perorangan pada PON 2012 lalu di Riau. Dia tidak bisa tampil di PON 2016 karena ada pembatasan usia. (BASKORO S/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TINGGAL KENANGAN: Petenis Jateng Wisnu Adi Nugroho saat merebut medali emas tunggal putra perorangan pada PON 2012 lalu di Riau. Dia tidak bisa tampil di PON 2016 karena ada pembatasan usia. (BASKORO S/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TINGGAL KENANGAN: Petenis Jateng Wisnu Adi Nugroho saat merebut medali emas tunggal putra perorangan pada PON 2012 lalu di Riau. Dia tidak bisa tampil di PON 2016 karena ada pembatasan usia. (BASKORO S/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TINGGAL KENANGAN: Petenis Jateng Wisnu Adi Nugroho saat merebut medali emas tunggal putra perorangan pada PON 2012 lalu di Riau. Dia tidak bisa tampil di PON 2016 karena ada pembatasan usia. (BASKORO S/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Pengprov Pelti Jawa Tengah cukup pesimistis menatap PON XIX/2016. Mengandalkan para petenis second line, Jateng tak yakin mampu bersaing di ajang multievent olahraga tersebut.

Kabid Litbang Pengprov Pelti Jateng Tri Nuharsono mengakui, para petenis Jawa Tengah yang bakal tampil di PON 2016 mendatang masih terlalu minim jam tanding. Selain itu, mereka adalah second line Pelti Jateng, bukan petenis utama.

“Tanpa petenis utama yang sudah hengkang ke Jatim dan Papua, kita memang sulit bersaing di PON 2016 mendatang. Susah bicara medali emas, realistis kita hanya akan dapat medali perunggu, entah dari nomor mana,” ujarnya. Jawa Tengah memang telah kehilangan tiga atlet putra andalannya, masing-masing Antoni Susanto (Semarang) serta M Iqbal dan Esnit, keduanya dari Sukoharjo. Anthony pindah ke Jawa Timur, adapun Iqbal dan Esnit hengkang ke provinsi Papua. “Kita tidak bisa berbuat banyak karena ini soal kesejahteraan. Jateng tidak mampu memberikan kesejahteraan yang lebih baik,” tambahnya.