Petani Ringinarum Tolak Ganti Rugi

Pembebasan Tol Semarang-Batang

533
TOLAK PROYEK TOL: Para petani dari Desa Wungurejo dan Tejorejo Kecamatan Ringinarum melakukan aksi penolakan terhadap proyek Tol Semarang-Batang di depan Kantor BPN Kendal, kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TOLAK PROYEK TOL: Para petani dari Desa Wungurejo dan Tejorejo Kecamatan Ringinarum melakukan aksi penolakan terhadap proyek Tol Semarang-Batang di depan Kantor BPN Kendal, kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TOLAK PROYEK TOL: Para petani dari Desa Wungurejo dan Tejorejo Kecamatan Ringinarum melakukan aksi penolakan terhadap proyek Tol Semarang-Batang di depan Kantor BPN Kendal, kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TOLAK PROYEK TOL: Para petani dari Desa Wungurejo dan Tejorejo Kecamatan Ringinarum melakukan aksi penolakan terhadap proyek Tol Semarang-Batang di depan Kantor BPN Kendal, kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KENDAL—Proses pembebasan lahan proyek tol Semarang-Batang tidak berjalan mulus. Sebagian warga Desa Wungurejo dan Tejorejo, Kecamatan Ringinarum, yang lahannya tekena dampak proyek menolak besaran uang ganti rugi karena dinilai terlalu murah.

Selasa (26/1) kemarin, puluhan petani dari dua desa tersebut melakukan aksi unjuk rasa menolak pembebasan lahan. Warga masih belum sepakat terhadap besaran uang ganti rugi. Mereka menggelar orasi di kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kendal, Kantor Bupati Bupati Knedal dan Kantor DPRD kendal.

Dengan membawa sejumlah poster dan spanduk berisikan kecaman penindasan terhadap para pertani yang tidak dihargai pekerjaannya karena lahannya dihargai murah. Harga yang ditawarkan tim pembebasan lahan mencapai Rp 220 ribu per meter persegi.