Perlu Komunikasi Politik Pasca Pilkada

396
PASCA PILKADA: Sarasehan pendidikan politik yang dimoderatori Yanto Mulyanto kemarin menghadirkan pembicara Kepala Kesbangpolinmas Taufik Rifai (tengah), dan Dosen Fisip Unwahas J Prihatmoko. (Wahib Pribadi/Jawa Pos Radar Semarang)
PASCA PILKADA: Sarasehan pendidikan politik yang dimoderatori Yanto Mulyanto kemarin menghadirkan pembicara Kepala Kesbangpolinmas Taufik Rifai (tengah), dan Dosen Fisip Unwahas J Prihatmoko. (Wahib Pribadi/Jawa Pos Radar Semarang)
PASCA PILKADA: Sarasehan pendidikan politik yang dimoderatori Yanto Mulyanto kemarin menghadirkan pembicara Kepala Kesbangpolinmas Taufik Rifai (tengah), dan Dosen Fisip Unwahas J Prihatmoko. (Wahib Pribadi/Jawa Pos Radar Semarang)
PASCA PILKADA: Sarasehan pendidikan politik yang dimoderatori Yanto Mulyanto kemarin menghadirkan pembicara Kepala Kesbangpolinmas Taufik Rifai (tengah), dan Dosen Fisip Unwahas J Prihatmoko. (Wahib Pribadi/Jawa Pos Radar Semarang)

DEMAK- Berbagai persoalan biasanya kerap muncul pasca pilkada, termasuk di Demak. Karena itu, perlu adanya komunikasi yang tepat dalam mengelola masalah dalam mengawali tradisi baru setelah pilkada tersebut.

Diantara problem yang akan menerpa adalah adanya pertentangan komunikasi yang tajam diantara elit partai politik (parpol) dengan konstituen. Kemudian, munculnya ketidakpercayaan serta timbul konflik akibat pengaruh terpaan media massa. Media massa secara sadar atau tidak dapat menstimulasi konflik dilingkaran elit parpol maupun birokrasi. Yang paling rawan adalah adanya kejenuhan dan keengganan berkomunikasi diantara pihak-pihak terkait dilingkaran kekuasaan. Jika ini terjadi, maka akan sulit mencari penyelesaian masalah. Demikian mengemuka dalam sarasehan pendidikan politik bagi masyarakat 2016 di gedung Bina Praja, Pendopo Kabupaten, kemarin.