Investasi Terhambat Pembebasan Lahan

328

SEMARANG – Masalah pembebasan lahan dituding sebagai kendala utama dalam perkembangan investasi di Jawa Tengah. Terbukti, beberapa proyek akbar seperti Jateng Park, pabrik semen, dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batang sempat tersendat gara-gara persoalan lahan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penanaman Modal Daerah (BPMD) Provinsi Jawa Tengah, Asih Widhiastuti mengakui, banyak pembangunan yang molor gara-gara keterbatasan lahan yang dimiliki pemerintah kabupaten/kota. ”Ini memang sudah menjadi masalah klasik. Kabupaten/kota hanya punya lahan untuk membina peruntukan industri,” ucapnya.

Kendala itu menjadi hal yang serius mengingat 2016 ini, banyak investor yang ingin mengembangkan sektor industri padat karya di Jawa Tengah. Untuk bisa melayani permintaan ini, butuh lahan yang benar-benar luas. Keterbatasan inilah yang membuat para pengusaha kerap maju-mundur berinvestasi di Jawa Tengah.

Meski begitu, Asih optimistis masih banyak investor yang melirik provinsi ini. ”Dari pertemuan dengan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) beberapa waktu lalu, mereka mengatakan ada beberapa perusahaan tetap membangun di Jateng,” katanya. Alasannya, selain tenaga kerjanya loyal, iklim investasinya baik, pelayanan perizinan pun sudah dilayani lewat satu pintu. ”Mungkin tahun ini ada 49 perusahaan API yang akan masuk,” terangnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng Frans Kongi menuturkan, upaya Jawa Tengah untuk menjadi daerah kawasan industri tergolong dramatis. Di satu sisi, pemerintah ingin menggerakkan roda perekonomian. Membangun kawasan industri agar daerah tersebut maju. Memangkas angka pengangguran sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga. Bahkan, kini telah lahir regulasi yang mewajibkan semua investor untuk masuk ke kawasan industri. ”Karena itulah, nyaris semua pemerintah daerah berlomba-lomba menyiapkan lahan industri. Terutama di Demak dan Kendal,” tuturnya.

Di sisi lain, para investor butuh lahan yang harganya terjangkau. Kalau harga tanah dan pembebasan lahan masih sulit, investasi ini tidak akan optimal. ”Sebenarnya industri padat karya di Jateng masih sangat laku. Terutama di Blora, Grobogan, Purwodadi, dan daerah di sekitar Surakarta yang nilai UMK-nya masih terjangkau. Tapi melihat kendala itu, investor mungkin akan berpikir dua kali,” pungkasnya. (amh/ric/ce1)