Dewan Minta Pemprov Turunkan Pajak Kendaraan

Harga Mobil di Jateng Lebih Mahal Rp 2 Juta

365

SEMARANG – Pemprov Jateng disarankan menurunkan biaya pajak kendaraan bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB). Pasalnya, pajak kendaraan bermotor dan BBNKB di Jateng sekarang ini lebih tinggi dibanding provinsi-provinsi di sekitarnya. Akibatnya, masyarakat enggan membeli mobil atau motor di daerahnya sendiri. Mereka lebih memilih membeli di Jogjakarta atau Jakarta yang pajaknya jauh lebih murah. Kondisi itu akhirnya berdampak pada pendapatan daerah. Hal itu disampaikan oleh Ketua DPRD Jateng Rukma Setyabudi di ruang kerjanya, Jumat (29/1).

”Saran saya Pemprov Jateng segera menurunkan pajak kendaraan bermotor dan BBNKB. Melesetnya pendapatan daerah dari sektor pajak pada 2015 lalu, salah satunya karena tingginya pajak kendaraan bermotor di Jateng,” ungkapnya.

Menurutnya, dengan pajak kendaraan bermotor lebih tinggi dari daerah-daerah lain seperti Jogjakarta dan Jakarta, maka masyarakat Jateng menjadi enggan membeli mobil atau kendaraan bermotor di Jateng. Masyarakat lebih memilih membeli mobil atau motor dari Jogjakarta atau Jakarta yang harganya lebih murah.

Dengan menurunkan pajak, Rukma optimistis akan berpengaruh positif terhadap pendapatan daerah yang semakin meningkat. Karena akan banyak masyarakat Jateng yang membeli mobil di daerahnya sendiri. Nomor luar daerah juga akan banyak yang balik nama ke Jateng.

”Tidak seperti sekarang ini, di Jateng banyak dipenuhi kendaraan atau mobil pelat AB dari Jogjakarta dan B dari Jakarta. Karena masyarakat memilih beli mobil dari daerah lain yang lebih murah,” tegasnya.

Selain soal pajak, Rukma juga berharap prosedur pengurusan mobil atau kendaraan bermotor di Jateng dipermudah. ”Sekarang ini kan proses pengurusan izin saja masih berbelit-belit dan menyusahkan masyarakat,” katanya.

Hal yang sama disampaikan Ketua Komisi C DPRD Jateng Asfirla Harisanto. Ia tidak heran kalau pendapatan dari sektor pajak kendaraan bermotor pada 2015 tidak terpenuhi. Sebab, masyarakat memang memilih membeli mobil ke daerah lain, seperti Jogjakarta atau Jakarta.