Pengembangan Kampung, Proyek dan Program

668

Oleh: Djawahir Muhammad

BEBERAPA hari lalu, seorang kawan yang mengambil program doktor perencanaan kota di sebuah universitas di Belanda datang ke rumah. Selain bersilaturahmi, ia bermaksud mencari informasi tentang keadaan kampung-kampung di Semarang, terutama kampung-kampung lama. Yang dimaksud dengan kampung lama ialah kampung-kampung asli Semarang yang sudah eksis jauh sebelum tumbuh kampung-kampung baru pasca Perumnas Banyumanik maupun perkampungan model real estate semisal Perumnas (Rumah Susun) Sampangan atau Perumahan Tanah Mas (1975).

Saya tahu yang dimaksud teman tadi adalah kampung-kampung di mana orang Semarang beranak-pinak selama beberapa generasi, semisal Kampung Kulitan, Kauman, Jayenggaten, Sekayu, Jomblang, dsb. (Sebelum 1975) atau kampung yang lebih koeno lagi, yakni telah eksis di kota ini jauh sebelum dikeluarkannya status gementee Semarang atau Kotapraja Semarang berdasar staatsblad 1906, atau setidak-tidaknya sesudah dibubarkannya Kongkoan pada 1931.

Pertanyaannya, apakah ada hubungan antara kampung-kampung itu dengan kekhasan penghuninya? Ternyata jawaban terpenting dari pertanyaan ini berkaitan dengan fungsi penghuni kampung dengan eksistensi budaya dan kearifan lokal mereka. Tesisnya adalah, penghuni asli sebuah kampung merupakan penjaga atau penyelamat bentuk-bentuk kearifan lokal yang dihayati mereka. Sejauh penduduk sebuah kampung masih memelihara tradisi setempat, akan terjadi proses enkulturasi (pewarisan) nilai-nilai lokalnya. Contohnya, sejauh orang-orang di Kampung Kauman atau Petolongan masih memelihara spiritnya sebagai pedagang, maka akan berlangsung spirit entrepreneurship (wiraswasta) penduduk kampung itu. Sebaliknya, jika penduduk (kampung) sudah mulai bergeser pilihan profesinya (misalnya memilih menjadi pegawai), hal itu merupakan penanda terjadinya penipisan terhadap kekhasan tradisi yang mereka miliki.

Selain fenomena tersebut, sebuah kampung juga menjadi benteng pertahanan artefak budaya masyarakat. Artefak budaya masyarakat– katakanlah arsitektur rumah adat di sebuah desa atau kampung– eksistensinya tergantung kepada kesadaran masyarakat di desa atau kampung itu untuk memeliharanya. Jika masyarakat sudah tidak merasa berkepentingan dengan rumah adat itu, tunggulah saatnya rumah adat atau artefak itu lenyap. Hal itu terjadi bukan hanya di Kampung Sekayu atau Jayenggaten yang penghuninya telah menjual rumah adatnya kepada pengelola pasar modern, tetapi juga terjadi di kota lain, misalnya di Kabupaten Kudus, Pati, dll. Di kota-kota itu banyak terjadi bedhol rumah joglo (rumah khas Jawa Tengah, Red) ke Jakarta atau kota tujuan lain, karena telah berlangsung deal jual-beli rumah joglo itu antara pemilik dengan broker atau pembelinya.