Raih IPK 3,93, Tertolong Beasiswa Bidik Misi

Nur Fatimah, Anak PRT Jadi Wisudawati Terbaik UIN Walisongo

529
TERBAIK: Nur Fatimah bersama orang tuanya, Mokhari dan Suwanti. (DESTIANTI RAHMAWATI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TERBAIK: Nur Fatimah bersama orang tuanya, Mokhari dan Suwanti. (DESTIANTI RAHMAWATI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

TERBAIK: Nur Fatimah bersama orang tuanya, Mokhari dan Suwanti. (DESTIANTI RAHMAWATI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TERBAIK: Nur Fatimah bersama orang tuanya, Mokhari dan Suwanti. (DESTIANTI RAHMAWATI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
1

Nur Fatimah menjadi bintang saat upacara Wisuda ke-68 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo belum lama lalu. Putri buruh tani dan pembantu rumah tangga (PRT) ini menjadi wisudawati terbaik dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) nyaris sempurna 3,93.

DESTIANTI RAHMAWATI

SETIAP acara wisuda selalu ada kejutan dari para wisudawan dan wisudawati yang meraih predikat terbaik. Tak sedikit, lulusan terbaik itu berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Salah satunya Nur Fatimah.

Mahasiswi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo ini menjadi wisudawati terbaik pada upacara wisuda ke-68, pekan lalu. Bahkan, apa yang diraih Nur tersebut sempat membuat sang ayah, Mokhari, 47, menangis haru. Ia tak menyangka, sang putri bisa meraih prestasi yang sangat membanggakan. Maklum, Mokhari hanya buruh tani.

”Saya terharu dan bangga sekali. Selain menjadi lulusan terbaik, anak saya mendapat beasiswa kuliah S2 dari Pak Rektor,” katanya sambil menyeka air mata usai prosesi wisuda di Aula Kampus 3 UIN Walisongo.

Mokhari menjelaskan, sehari-hari dirinya hanya sebagai buruh tani dengan penghasilan Rp 450 ribu per bulan. Sedangkan istrinya, Suwanti, 40, bekerja sebagai pembantu rumah tangga dengan bayaran hanya Rp 250 ribu sebulan.

”Jadi kira-kira saya hanya mendapatkan uang Rp 13.500 per harinya. Kalau dipakai membayar kuliah Nur jelas tidak cukup. Tapi, Alhamdulillah Nur bisa lulus dengan nilai bagus,” ucapnya penuh syukur.

Nur mengaku untuk meraih gelar sarjananya harus susah payah. Diakui, keterbatasan ekonomi keluarga membuatnya harus menyelesaikan empat tahun masa kuliah dengan tekun dan mandiri. ”Kunci saya menjadi terbaik adalah selalu yakin, percaya, dan ingat sama Allah. Karena dalam setiap apa yang saya lakukan tentunya harus selalu dekat dengan Allah,” kata Nur.

Meski Nur telah banyak terbantu dengan program beasiswa Bidik Misi selama kuliah di UIN Walisongo, bukan berarti ia tidak mengalami kesulitan ekonomi. Lagi pula Nur adalah mahasiswa yang sangat aktif di organisasi kampus. Beasiswa Bidik Misi sebesar Rp 6 juta per semester sering terlambat. ”Kadang uang beasiswa telat. Jadi, harus ngirit. Pernah juga minta orang tua, tapi tidak selalu. Kasihan bapak dan ibu. Makanya saya harus buktikan menjadi yang terbaik,” ujar Nur.

Selama kuliah, gadis yang mengambil judul skripsi ”Produksi Film Dokumenter Religius Bukan Seperti Miskin Tidak Seperti Kaya” ini banyak mengikuti kegiatan kampus, di antaranya aktif di Lembaga Pers Mahasiswa MISSI, UKM Walisongo TV, dan Radio Mitra Berdakwah dan Salawat (MBS) FM.

”Untuk bisa meraih semua itu, kita harus pandai memanajemen waktu belajar kita. Saya sendiri juga mengatur waktu kuliah dengan waktu berorganisasi di buku catatan harian saya. Kalau subuh saya mempelajari mata kuliah yang nanti diajarkan, kalau malam buat belajar organisasi, biasanya menulis,” ungkap dara kelahiran Batang 11 Juni 1993 ini.

Setelah menyelesaikan gelar sarjananya, Nur berkeinginan melanjutkan kuliah S2 di kampus yang sama. Targetnya adalah bisa bekerja untuk membantu ekonomi keluarga yang pas-pasan. ”Saya sangat ingin menjadi entertainer (bekerja pada dunia hiburan). Bisa menjadi pembawa acara televisi dan seminar-seminar besar begitu. Intinya saya ingin keluarga saya bangga,” katanya.

Rektor UIN Walisongo Prof Muhibbin mengatakan, secara khusus kampus akan memberikan beasiswa S2 bagi lulusan terbaik tahun ini. Ia berharap potensi-potensi seperti Nur Fatimah bisa menjadi motivasi mahasiswa lain, meski dengan keterbatasan kondisi keluarga. ”Harapannya dia (Nur Fatimah) bisa masuk ke kami (kuliah pascasarjana UIN Walisongo). Syukur-syukur kami bisa memberikan (beasiswa) tambahan baginya untuk biaya hidup,” ujarnya.

Muhibbin menegaskan, bahwa wisudawan terbaik nanti diharapkan dapat fokus pada bahasa asing. Untuk lulusan S2 akan dikirim melanjutkan studi S3 ke luar negeri. ”Bagi wisudawan yang memiliki kemampuan bahasa Inggris yang bagus akan dikirim ke Barat, sedangkan bagi wisudawan yang bahasa Arabnya bagus, akan dikirim ke Timur Tengah,” katanya. (*/dilengkapi eko wahyu budiyanto/aro/ce1)