Pengembang Masih Wait and See

400
GENJOT PEMASARAN: Sebanyak 15 pengembang mengikuti REI Expo yang digelar di Mal Paragon mulai 3-14 Februari mendatang. (PRATIDINA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
GENJOT PEMASARAN: Sebanyak 15 pengembang mengikuti REI Expo yang digelar di Mal Paragon mulai 3-14 Februari mendatang. (PRATIDINA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
GENJOT PEMASARAN: Sebanyak 15 pengembang mengikuti REI Expo yang digelar di Mal Paragon mulai 3-14 Februari mendatang. (PRATIDINA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
GENJOT PEMASARAN: Sebanyak 15 pengembang mengikuti REI Expo yang digelar di Mal Paragon mulai 3-14 Februari mendatang. (PRATIDINA/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Pengembang perumahan menantikan adanya kebijakan baru dari pihak perbankan, sebagai efek dari turunnya BI Rate. Kebijakan tersebut diharapkan dapat menggairahkan pasar properti.

Kepala Dewan Perwakilan Daerah (DPD) REI Jawa Tengah Bidang Promosi Humas & Publikasi Dibya K Hidayat mengatakan selama ini pembelian rumah lebih banyak kredit. Dengan adanya penurunan BI Rate, para pengembang berharap segera ada penurunan suku bunga kredit atau setidaknya ada program fix rate untuk kredit beberapa tahun pertama. “Sejauh ini memang belum ada kebijakan baru dari perbankan. Harapan kami kalangan perbankan bisa segera menurunkan suku bunga kreditnya untuk mendongkrak penjualan rumah,” ujarnya di sela pembukaan REI Expo 2/2016, yang berlangsung di Atrium Mall Paragon, kemarin.

Kendati demikian, pihaknya tetap optimis, tahun ini penjualan rumah akan membaik. Selain harga rumah masih belum terkoreksi, perkembangan perekonomian yang terlihat lebih membaik diyakini memberikan efek positif terhadap pasar properti. “Seharusnya tahun ini menjadi tahun yang bagus untuk bisnis properti, mengingat keseriusan pemerintah dalam program pengadaan rumah. Kemudian harga jual rumah, mayoritas pengembang juga masih belum menaikkan harga rumah. Apalagi, sejauh ini masih belum ada gejolak harga material,” tandasnya.

Sementara itu, dalam pameran yang berlangsung sejak 3-14 Februari mendatang ini, diikuti oleh 15 pengembang. Peserta terdiri dari pengembang rumah menengah dan atas, serta apartemen dari Semarang maupun luar kota Semarang.

Rumah yang dipasarkan mulai dari harga Rp 350 jutaan. Sedangkan untuk apartemen yang dijual di kisaran Rp 300-600 jutaan. “Pameran kali ini diharapkan lebih baik dari pameran sebelumnya dimana segmen yang dituju adalah masyarakat menengah atas yang selama ini tidak terpengaruh kondisi ekonomi apapun,” sebutnya. (dna/smu)