Dokter Mitra BPJS Melanggar Kode Etik

870

UNGARAN- Sejumlah dokter mitra Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan yang berpraktik di Kabupaten Semarang diduga menyalahi kode etik profesi. Terutama para dokter yang nyambi bisnis klinik kesehatan atau rumah sakit. Pasalnya, dokter-dokter tersebut memberi rujukan pasien BPJS Kesehatan di klinik atau rumah sakit miliknya. Tujuannya tidak lain untuk mendapatkan keuntungan.

Sekretaris Komisi B DPRD Kabupaten Semarang, The Hok Hiong, mengatakan, pihaknya banyak menerima keluhan dari masyarakat terkait prosedur pelayanan BPJS Kesehatan. Bahkan dari sejumlah pengaduan, pihaknya melihat ada dokter-dokter yang berupaya mencari keuntungan pribadi. Modusnya, mengarahkan peserta BPJS berobat di klinik miliknya.

“Padahal dokter tersebut berpraktik di rumah sakit pemerintah yang melayani peserta BPJS. Tapi, justru pasien itu diarahkan keluar ke kliniknya bukan di rumah sakit tempatnya bekerja. Masalah seperti ini harus menjadi perhatian rumah sakit,” tuturnya, kemarin.

The Hok menambahkan, peserta BPJS mayoritas dari kalangan tidak mampu, sehingga masalah seperti itu tidak perlu terjadi. Apalagi para dokter terikat sumpah dan janji profesi mereka untuk mengutamakan pelayanan kesehatan dibanding mencari keuntungan materi. Sehingga pihaknya meminta pembinaan dokter praktik di rumah sakit milik pemerintah untuk ditingkatkan.

“Sosialisasi dari BPJS Kesehatan sangat penting, agar masyarakat tidak bingung saat butuh pelayanan. Jangan sampai masyarakat menjadi korban karena ketidaktahuan mereka,” katanya.

Dirut RSUD Ambarawa dr Rini Susilowati menjelaskan, aturan pelayanan BPJS Kesehatan di rumah sakitnya sudah jelas dan berjalan dengan baik. Bahkan dokter praktik di RSUD Ambarawa dilarang mengarahkan peserta BPJS ke tempat lain. “Di sini tidak ada dokter yang seperti itu. Kalau ada dokter yang seperti itu langsung saya jewer,” kata Rini.

Menurut Rini, dokter memang dapat memberikan rujukan pelayanan kesehatan sesuai yang diinginkan. Hanya saja rujukan tersebut harus mempertimbangkan berbagai hal seperti penyakit yang diderita pasien, juga kelengkapan peralata kesehatan. “Kami berupaya maksimal agar tidak merujuk pasien keluar. Upaya yang kami lakukan dengan menambah ruang rawat inap. Selain itu menambah ruang dan peralatan kesehatan seperti cuci darah dan kemoterapi,” pungkasnya. (tyo/aro)