Penjualan Buku Dikeluhkan

361

TEGAL – Sejumlah wali murid kelas VI SD Kesadikan 1 Kecamatan Tarub mengeluhkan penjualan buku seharga Rp 50 ribu di sekolah tersebut. Selain tidak ada musyarawah antar pihak sekolah dengan wali murid atau komite, pembelian buku materi Ujian Sekolah itu juga dinilai sangat memberatkan. Meski berat, tapi ada beberapa wali murid yang terpaksa sudah membelinya.

“Memang itu tidak diwajibkan, tapi siswa disarankan untuk membeli. Ya kami terpaksa membelinya,” tutur Ali Murtado, salah satu orang tua siswa kelas VI SD Kesadikan 1 Kecamatan Tarub.

Dia sangat menyayangkan tindakan yang dilakukan oleh pihak sekolah dan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Pemkab Tegal. Mestinya, pengadaan buku pelajaran tidak dibebankan kepada orang tua siswa. Sebab, pemerintah pusat sudah mengalokasikan anggaran untuk SD melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Ironisnya, justru hal itu disalahgunakan oleh pihak sekolah dan tentunya diketahui oleh Dinas Dikpora. “Ini sepertinya ada kerjasama antara dinas (Dikpora) dengan penerbit. Sebab, SD yang melakukan seperti itu seolah-olah dibiarkan saja,” kata Ali menduga-duga.

Ali berharap, Dinas Dikpora supaya tidak menganjurkan sekolah atau siswa untuk membeli buku itu. Jika Dinas Dikpora hendak bekerjasama dengan penerbit, maka pembelian buku harus mengunakan dana BOS. Sehingga, orangtua siswa tidak terbebani. “Kalau seperti ini, kita (orangtua) terbebani. Buat apa ada BOS?,” cetusnya.

Ali menambahkan, pembelian buku itu sebenarnya dikeluhkan oleh seluruh wali murid kelas VI. Hanya saja, mereka tidak berani bicara karena khawatir anaknya diasingkan oleh pihak sekolah.

Di tempat terpisah, Kepala SD Kesadikan 1, Rumoso, saat dikonfirmasi hal tersebut, pihaknya tidak mengelak. Dia mengakui bahwa sekolah telah menjual buku materi Ujian Sekolah terhadap siswa kelas VI seharga Rp 50 ribu. Dia juga mengakui bahwa penjualan buku itu sebelumnya tidak musyawarah dengan orangtua siswa maupun komite. “Memang ini kesalahan saya. Saya cuma koordinasi sama guru-guru di sekolah saja,” ucapnya.

Rumoso menjelaskan, sebenarnya harga buku itu Rp 80 ribu. Tapi, pihak sekolah memberikan subsidi sebesar Rp 30 ribu yang berasal dari dana BOS. Sehingga, orangtua siswa hanya membayar kekurangannya yakni Rp 50 ribu tiap siswa. Meski begitu, dia akan mengembalikan lagi uang itu jika orangtua siswa merasa keberatan. “Kalau wali murid tidak setuju, nanti akan saya batalkan. Uang dikembalikan,” ujarnya.

Dia menambahkan, jumlah siswa di sekolah tersebut sebanyak 231 anak. Jika melihat dari jumlah siswa, pihaknya mengaku dana BOS yang digelontorkan pemerintah cukup banyak. “Kalau untuk membeli buku memang cukup,” tukasnya. (yer/jpnn/ric)