Jiwa Raga untuk Pramuka

785
Slamet Budi Prayitno (AHMAD FAISHOL/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Slamet Budi Prayitno (AHMAD FAISHOL/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Slamet Budi Prayitno (AHMAD FAISHOL/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Slamet Budi Prayitno (AHMAD FAISHOL/JAWA POS RADAR SEMARANG)

MESKI telah menduduki Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) XI Gerakan Pramuka Jawa Tengah, tidak lantas membuat Prof Dr Ir Slamet Budi Prayitno berbangga dan berpuas diri. Justru dari situlah yang memacu dirinya untuk terus mengabdikan jiwa dan raga untuk gerakan kepanduan tersebut. Tidak terkecuali di tingkat Kwartir Cabang (Kwarcab) Kota Semarang.

”Dalam Pramuka itu bukan kualifikasi yang terpenting. Akan tetapi kemauan serta komitmen untuk menjalankan perilaku serta nilai-nilai mulia yang diajarkan di dalamnya,” ungkap pria yang akrab disapa Kak Budi itu.

Menurut dia, seorang pelatih Pramuka bukan sebuah kebanggaan atau target untuk status sosial. Pelatih adalah role model serta teladan karakter bagi pembina dan peserta didik. Karenanya, kesukarelaan dan keikhlasan adalah sikap utama yang harus dimiliki seorang pelatih. ”Tidak setiap pembina menjadi pelatih,” imbuh pria yang baru saja mengikuti Kursus Pelatih Pembina Pramuka Tingkat Lanjutan (KPL) di Korea itu.

Ia menambahkan, seorang pelatih juga harus menjadi inspirator, motivator, dan fasilitator. Sehingga dapat memberikan teladan karakter selama proses pelatihan. Tidak hanya itu, seorang pelatih juga harus memberikan tantangan karakter melalui cara yang menyenangkan, menantang, dan memiliki nilai pendidikan. ”Mohon dukungannya semoga saya bisa melakukan hal itu,” tukasnya. (fai/ric/ce1)