Ibu Sakit Ginjal, Siswa SD Keliling Jual Makaroni

665
TERMANGU: Eko Adi Prasetyo di depan kamar kosnya. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TERMANGU: Eko Adi Prasetyo di depan kamar kosnya. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TERMANGU: Eko Adi Prasetyo di depan kamar kosnya. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TERMANGU: Eko Adi Prasetyo di depan kamar kosnya. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG—Kisah Eko Adi Prasetyo, 9, sungguh mengharukan. Siswa kelas 2 di salah satu SD Negeri di Pedurungan ini harus berjualan makanan kecil demi membantu sang ibu, dan adiknya yang masih berusia 2 tahun. Ia harus membantu ibunya yang menderita sakit batu ginjal lantaran sang ayah sudah meninggal akibat kecelakaan. Hampir setiap hari, Eko berkeliling sambil membawa dagangan berupa makaroni yang disimpan dalam kardus. Ia meletakkan kardus tersebut di stang sepeda bututnya.

Di Semarang, bocah kelahiran Palembang, 10 Oktober 2006 itu tinggal bersama Dewi, ibunya, dan Erma, adiknya, di kamar kos sederhana berukuran 3×3 meter di kawasan Pedurungan Tengah 5 C. Di rumah kos itu, Dewi juga berjualan makanan kecil-kecilan untuk menyambung hidup.

“Saat saya yang masih kuat bekerja sendiri, saya berjualan makaroni di sekolah-sekolah di sekitar Pedurungan sini. Namun setelah divonis sakit batu ginjal 6 bulan lalu, kaki saya bengkak, punggung saya sakit, dan tidak bisa bekerja lagi,” ucap pilu Dewi saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (6/2) siang.