Belajar Dua Bulan, Langsung Pentas

Warga Tionghoa Peduli Kesenian Tradisional

999
SEBELUM PENTAS: Eunike Viktoria gadis keturunan Tionghoa ini sangat piawai memperagakan tari-tarian tradisional bersama temannya. (Dok SMA YSKI for Jawa Pos Radar Semarang)
SEBELUM PENTAS: Eunike Viktoria gadis keturunan Tionghoa ini sangat piawai memperagakan tari-tarian tradisional bersama temannya. (Dok SMA YSKI for Jawa Pos Radar Semarang)

Meski mulai dilupakan generasi aslinya sendiri, kesenian tradisional justru dikembangkan oleh warga keturunan Tionghoa. Mulai wayang kulit, tari tradisional hingga seni karawitan. Seperti apa?

TEPATNYA di Jalan dr Cipto Nomor 31-33 Semarang, berbagai aktivitas kesenian tradisional seperti gamelan Jawa, karawitan, tari, pendidikan pewayangan, hingga mendalang, menjadi pemandangan unik di tengah peradaban modern.

Di gedung Volkskunstvereeniging Sobokartti yang kini bernama gedung Perkumpulan Seni Sobokartti, beragam aktivitas tersebut diprakarsai oleh Mangkunagara VII dan seorang arsitek asal Belanda Herman Thomas Karsten pada 9 Desember 1920. Thomas memiliki andil besar dalam perkembangan sejarah kesenian di Kota Semarang.

Lebih unik lagi, ternyata banyak warga keturunan Tionghoa yang aktif melestarikan warisan kesenian tradisional Jawa di gedung tersebut. Bahkan terdapat sepuluh warga asing yang merupakan keturunan Tionghoa belajar ilmu tari dan gamelan karawitan di Sobokartti.

”Ada sepuluh warga asing. Beberapa di antaranya keturunan Tionghoa yang belajar di sini. Mereka dari Tiongkok, Taiwan, Korea, Jepang, dan Kanada. Mereka belajar tari dan gamelan karawitan,” kata Ketua Perkumpulan Seni Sobokartti Semarang, Tjahjono Rahardjo, dihubungi Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (7/2) kemarin.

Menurutnya, mereka memang sengaja datang ke Semarang untuk belajar kesenian tradisional Jawa tersebut. ”Mereka belajar tidak lama, hanya memiliki waktu kurang lebih dua bulan. Setelah mereka mempelajari kesenian tradisional tersebut, kemudian dipentaskan dalam sebuah event,” terangnya.

Selama proses belajar kesenian di tempat tersebut, para warga asing tersebut bergabung dengan warga Indonesia yang belajar di Sobokartti. ”Kami juga bekerja sama dengan mahasiswa Undip,” katanya.