Hari Ini, Petugas Puskesmas Cek Kesehatan Ibunda Eko

592
TERMANGU: Eko Adi Prasetyo di depan kamar kosnya. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TERMANGU: Eko Adi Prasetyo di depan kamar kosnya. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang, dr Widoyono mengatakan, Rabu (10/2) hari ini, pihaknya akan mengirimkan petugas kesehatan dari puskesmas terdekat untuk mendatangi rumah kos Dewi, 30, ibunda Eko Adi Prasetyo, 9, yang baru di Jalan Tlogo Pacing 1 kawasan Wolter Monginsidi, Semarang. Hal itu untuk memastikan kondisi kesehatan janda dua anak tersebut.

”Besok (hari ini), saya kirim tim ke sana. Apakah memang benar mengalami batu ginjal atau tidak. Selanjutnya, akan dilakukan penanganan lebih lanjut,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (9/2).

Ia menambahkan, semua biaya pengecekan akan ditanggung oleh pemerintah. Jika yang bersangkutan dapat menunjukkan diri sebagai warga Kota Semarang, maka langsung didaftarkan untuk menjalani operasi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Semarang. ”Semuanya gratis karena mendapatkan Jamkesmaskot (Jaminan Kesehatan Masyarakat Kota) Semarang,” katanya.

Sementara itu, Selasa (9/2) siang kemarin, keluarga Eko ’makaroni’ memutuskan pindah kos ke Jalan Tlogo Pacing 1. Dewi dan dua anaknya, Eko dan Erma, 2, boyongan ke tempat kos yang baru sekitar pukul 14.00. Semua barang milik keluarga Eko diangkut dengan mobil milik seorang perwakilan dari donatur bernama Robby.

”Untung ada Mas Robby sama kakak saya, jadinya saya nggak harus ngangkat barang berat ke mobil. Tadinya kata Mas Robby mau dicarikan tempat kos di Bugen, Bangetayu. Tapi akhirnya pilih di sini agar dekat dengan kos yang lama. Ya, bersyukur Mbak, ini lebih baik dibanding kos yang lama. Di sini kita bisa nampung tamu di depan,” ujarnya ketika ditemui Jawa Pos Radar Semarang.

Praktis, jarak yang ditempuh Eko menuju sekolahnya di SD Negeri 2 Pedurungan Tengah menjadi lebih jauh. ”Kasihan Eko kalau nyepeda sejauh ini. Nanti saya suruh naik angkot aja. Dari sini kan tinggal nyari yang jurusan Penggaron. Itu cuma sekali naik angkot pulang pergi, jadi Eko ndak bakalan bingung. Mungkin nanti pas hari pertama (hari ini) saya bakal minta tolong sama kakak saya buat nyegatin angkot di depan situ,” kata Dewi sambil menggendong Erma.

Eko yang ditemui usai membantu ibunya merapikan kamar kosnya mengaku masih bingung dengan lingkungan barunya tersebut. Bocah 9 tahun tersebut belum bisa menyesuaikan diri. Ia mengaku masih harus mengenal rute baru yang bisa dilalui untuk berangkat ke sekolah menggunakan sepedanya.