Tim Divisi Utama Masih Jadi Anak Tiri

465
TINGGAL KENANGAN: PSIS saat berlaga di sebuah turnamen 2015 lalu. Sudah satu tahun lebih PSIS vakum setelah pemerintah membekukan PSSI dan membuat kompetisi sepak bola Indonesia mati. (BASKORO S/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TINGGAL KENANGAN: PSIS saat berlaga di sebuah turnamen 2015 lalu. Sudah satu tahun lebih PSIS vakum setelah pemerintah membekukan PSSI dan membuat kompetisi sepak bola Indonesia mati. (BASKORO S/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TINGGAL KENANGAN: PSIS saat berlaga di sebuah turnamen 2015 lalu. Sudah satu tahun lebih PSIS vakum setelah pemerintah membekukan PSSI dan membuat kompetisi sepak bola Indonesia mati. (BASKORO S/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TINGGAL KENANGAN: PSIS saat berlaga di sebuah turnamen 2015 lalu. Sudah satu tahun lebih PSIS vakum setelah pemerintah membekukan PSSI dan membuat kompetisi sepak bola Indonesia mati. (BASKORO S/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Setahun lebih vakumnya kompetisi tentu membuat tim-tim Divisi Utama (DU) merasa gerah. Khususnya di Jateng, tercatat sebanyak 12 tim profesional yang ada di Provinsi ini turun di kompetisi kasta kedua di Indonesia itu.

Apalagi, sederet gelaran turnamen berlevel Nasional yang digulirkan untuk mengisi kekosongan kompetisi tidak banyak yang melibatkan tim-tim Divisi Utama. Termasuk beberapa agenda turnamen yang telah direncanakan dalam beberapa bulan ke depan.

Di Jateng sendiri, terakhir gelaran turnamen yang melibatkan tujuh tim DU adalah Polda Jateng Cup 2015 yang telah rampung digelar senam bulan yang lalu. Setelah itu praktis tidak ada turnamen resmi kecuali gelaran turnamen antar kampung (tarkam) yang masih rutin diikuti oleh tim-tim Divisi Utama.