Atasi Abrasi Dengan Sea Wall

447

DEMAK – Bencana abrasi di pesisir Demak semakin mengkhawatirkan. Kerugian hingga kini sudah tidak terkira lagi jumlahnya, mengingat ada ratusan hektar sawah dan tambak yang hilang akibat gerusan air laut tersebut.

Belum lagi hilangnya harta benda seperti rumah-rumah warga yang terus-terusan tergerus ombak. Bahkan sebuah dukuh di Sayung harus hilang akibat abrasi. Untuk mengatasinya kemarin Gubernur Jateng Ganjar Pranowo beserta rombongan dari Pemkab Demak melakukan kunjungan di dua tempat yang paling parah terkena abrasi. Yakni di Desa Sriwulan serta Desa Timbulsloko, keduanya berada di Kecamatan Sayung.

Menurut Ganjar, penyelesaian masalah ini harus secara parsial, rencananya tahun ini mereka akan membuat Detail Engineering Design (DED) untuk pembuatan sabuk pantai sepanjang 15 kilometer yang membentang mulai wilayah Kecamatan Sayung hingga Kecamatan Wedung. Sabuk pantai atau sea wall ini fungsinya adalah menghentikan masuknya air laut ke arah daratan. “Nantinya ombak tidak bisa langsung menuju ke arah permukiman warga melainkan terhenti di sea wall terlebih dahulu, sehingga nantinya di bagian dalam sea wall terjadi pengeringan air laut untuk selanjutnya akan menjadi daratan,” jelasnya.

Menurutnya jika hanya menyelesaikan hal yang kecil-kecil saja, maka tidak akan selesai, meski berapapun besarnya anggaran yang dikucurkan. Untuk itulah diperlukan penanganan secara keseluruhan dengan membangun sea wall dikombinasikan dengan mangrove sepanjang 15 kilometer. Sedangkan untuk penanganannya akan dilakukan oleh PU pusat dan BBWS. Taksiran dananya hingga kini masih dalam tahap penghitungan. “Rencana tahun depan sudah bisa dilaksanakan pembangunannya, karena penurunan tanah di wilayah sini sangat cepat, perkiraan bisa mencapai 10 hingga 20 sentimeter per tahunnya,” tegasnya.

Sementara itu lurah Desa Sriwulan Zamroni mengatakan pihaknya mendukung penuh adanya pembangunan sea wall agar penderitaan warganya bisa segera terhenti. Namun dia juga mengharapkan adanya perhatian dari pemerintah terkait infrastruktur di wilayahnya. Pembangunan terkesan hanya di titik beratkan di wilayah timur saja, sedangkan wilayah Sayung bagian barat laut tidak diperhatikan. Contoh nyata adalah wilayah Sriwulan yang infrastrukturnya sudah sangat parah namun tidak ada penanganan.“Selain penanganan masalah rob, ada juga pemerataan pembangunan di bagian lainnya agar warga kami bisa tidur nyenyak seperti warga Demak lainnya,” pungkasnya. (adi/jpg/zal)