Rusunawa Kranggan Justru Dihuni MBT

2019
DITUDING AMBURADUL : Pengelolaan Rusunawa Ambarawa dianggap kacau lantaran membiarkan masyarakat berpenghasilan tinggi tinggal di rusunawa tersebut. (PRISTYONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DITUDING AMBURADUL : Pengelolaan Rusunawa Ambarawa dianggap kacau lantaran membiarkan masyarakat berpenghasilan tinggi tinggal di rusunawa tersebut. (PRISTYONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DITUDING AMBURADUL : Pengelolaan Rusunawa Ambarawa dianggap kacau lantaran membiarkan masyarakat berpenghasilan tinggi tinggal di rusunawa tersebut. (PRISTYONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DITUDING AMBURADUL : Pengelolaan Rusunawa Ambarawa dianggap kacau lantaran membiarkan masyarakat berpenghasilan tinggi tinggal di rusunawa tersebut. (PRISTYONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

UNGARAN–Pengelolaan rumah susun sewa (Rusunawa) Kranggan, di Jalan dr Cipto Nomor 100 Kelurahan Jagalan, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang masih amburadul. Pasalnya, rusunawa yang semestinya untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), kenyataannya dihuni kalangan masyarakat berpenghasilan tinggi (MBT).

Padahal rusunawa Gedang Anak di Ungaran yang baru saja diresmikan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahaan Rakyat (PU Peru) sudah diserahkan kepada Pemkab Semarang. Ada kekhawatiran rusunawa baru itu akan bernasib sama seperti rusunawa di Ambarawa.

Bukti rusunawa itu dihuni MBT, hampir setiap hari banyak terparkir kendaraan roda dua dan mobil. Bukan sebuah mobil tua, tapi mobil keluaran terbaru yang harganya mencapai ratusan juta terparkir di parkiran gedung Rusunawa. Warga sekitar menilai kebanyakan para penghuni rusunawa justru orang-orang mampu. Padahal persyaratan untuk menempati rusunawa adalah warga kurang mampu dan sudah berkeluarga serta warga asli Kabupaten Semarang.