Banjir Mengancam, PSDA Jateng Cuek

Protes Keras Pemkab Kudus dan PSDA Jateng

697

Kepala pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemkab Demak, Anjar Gunadi mengatakan, pihaknya protes keras kepada pihak Pemkab Kudus dan PSDA. Sebab, dari 12 pintu yang ada di Bendung Wilalung tersebut, 9 pintu yang mengarah ke wilayah Juwana Pati dan Kudus justru dibeton dan ditutup. Akibatnya, hanya 3 pintu bendung Wilalung yang dibuka los untuk membuang air yang menumpuk tersebut.

Tiga pintu itu semua mengarah ke wilayah Demak melalui Sungai Wulan. Dampaknya, air dari Sungai Lusi, Sungai Serang yang tertampung di bendung Wilalung limpas serta membanjiri areal persawahan warga Desa Sidomulyo, Kecamatan Dempet. Air merendam sekitar 160 hektare sawah yang sebagian besar telah selesai dipanen. “Untuk padi yang terendam ada sekitar 25 hektare,”katanya, kemarin.

Terkait kejadian tersebut, Anjar cukup menyesalkan pihak Kudus dan PSDA yang tetap tidak mau membuka pintu Bendung Wilalung yang megarah ke Juwana Pati dan Kudus. “Wilayah Kudus itu mau seenaknya sendiri. Kalau musim kemarau minta dialiri air, tapi giliran musim hujan pintu Bendung Wilalung dibeton dan ditutup. Ini namanya kan seenaknya hanya mau memikirkan diri mereka sendiri,” kata dia geram.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD, Mahfudz mengatakan, mestinya ada keseimbangan pembuangan air di Bendung Wilalung, yakni antara yang mengalir ke Demak dan ke Juwana Pati serta Kudus. “Tapi, ternyata pihak Kudus menolaknya. Padahal, tanggul sungai di Demak ini sudah kritis sehingga rawan jebol,” katanya.

Mahfudz menambahkan, sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang ada, jika debit air mencapai lebih dari 800 meterkubik perdetik, maka air Bendung Wilalung harus dialirkan dua arah yakni ke arah Demak dan Juwana Pati serta Kudus. “Namun, yang terjadi hanya dialirkan ke arah Demak saja,” ujarnya. (hib/zal)