Curi Sepeda Motor untuk Gaya-Gayaan

Kisah Pekerja Sosial Masyarakat Tangani Anak Berhadapan dengan Hukum

467
TIDAK DITAHAN: Suyatno (dua dari kiri) saat mengikuti sidang diversi pencurian kendaraan bermotor oleh anak usia 13 tahun di Polsek Kejajar. (IST)
TIDAK DITAHAN: Suyatno (dua dari kiri) saat mengikuti sidang diversi pencurian kendaraan bermotor oleh anak usia 13 tahun di Polsek Kejajar. (IST)
TIDAK DITAHAN: Suyatno (dua dari kiri) saat mengikuti sidang diversi pencurian kendaraan bermotor oleh anak usia 13 tahun di Polsek Kejajar. (IST)
TIDAK DITAHAN: Suyatno (dua dari kiri) saat mengikuti sidang diversi pencurian kendaraan bermotor oleh anak usia 13 tahun di Polsek Kejajar. (IST)

Jumlah anak yang berurusan dengan hukum semakin banyak. Sebagian besar berbuat kriminal bukan didasari masalah ekonomi. Seperti apa?

Nafas Suyatno Ahmad Waryanto, tampak masih tersengal ketika ditemui di rumahnya, Desa Bejiarum Kecamatan Kertek, Jumat siang (12/2). Pria berusia 47 tahun penyandang predikat pekerja sosial masyarakat (PSM) teladan tingkat nasional 2014 tersebut, mengaku baru saja menghadiri sidang diversi di Polsek Kejajar.

“Sidang diversi atas terjadinya kasus pencurian kendaraan bermotor yang dilakukan oleh seorang anak berusia 13 tahun asal Kejajar dan memerlukan kehadiran saya sebagai pendamping,” jelas bapak dua anak yang akrab dengan sapaan Yatno itu.

Meski akhirnya anak yang dilaporkan telah mencuri sepeda motor itu terlepas dari sanksi hukum, Yatno mengaku cukup miris memikirkan kondisi terkini anak-anak yang kian sering tersangkut kasus. “Dalam tiga bulan ini saya telah mendampingi 3 anak dari Kejajar, Leksono dan Kertek yang terlibat kasus pencurian, dan 2 di antaranya adalah pencurian kendaraan bermotor,” terang Yatno.

Ia menilai, anak-anak yang masih dalam usia sekolah tersebut tak selayaknya melakukan perbuatan melawan hukum, terlebih dengan dalih yang menurutnya cukup aneh. Pemicunya bukan sekadar kebutuhan ekonomi lantas mencuri, tapi hanya untuk gaya-gayaan di depan temannya.

Keberanian seorang anak yang masih ada di usia 13 tahun untuk mengambil sepeda motor dan langsung membawa lari juga membuatnya terheran-heran. Ketika ditanya petugas dari Polsek Kejajar, anak itu, menurut Yatno, mampu menjawab semua pertanyaan dengan lancar, meski terkesan ketakutan.

“Beruntung anak keluarga tak mampu itu tidak menjadi bulan-bulanan massa karena pihak pemilik sepeda motor berhasil mengamankan ke kantor polisi,” sebut Yatno.

Selaku pekerja sosial yang memang memiliki tugas mendampiki para penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS), Yatno mengaku tak keberatan ketika harus memenuhi panggilan dari pihak kepolisian untuk turut dalam sidang diversi. Hasil dari sidang diversi biasanya adalah rekomendasi agar anak yang telah melanggar hukum itu dikirim ke panti untuk dibina.

Namun, beberapa anak yang dikirim ke panti rehabilitasi sosial ternyata tidak bisa menjalani masa pembinaan dengan baik. “Salah satu anak dari Leksono yang telah dikirim ke panti justru pulang sendiri dan bahkan kembali melakukan tindak pencurian,” kata Yatno.

Terhadap fenomena anak berhadapan dengan hukum (ABH) yang kian sering terjadi, Yatno berharap pemerintah kabupaten melalui instansi atau lembaga terkait, bisa hadir. Pemkab harus lebih intensif memberikan sosialisasi agar anak tak mudah terjebak dalam keinginan yang berpotensi menjerumuskan mereka ke ranah hukum.

Kehadiran secara lebih intensif jajaran terkait dari pemkab, diyakini Yatno akan mampu menyadarkan banyak pihak. Kasus pencurian yang dilakukan anak usia 13 tahun itu terjadi juga karena adanya kesempatan, mengingat ia merasa mudah membawa lari kendaraan yang ditinggal pemilik dalam keadaan tidak dikunci. Bahkan kunci kontaknya ditinggal di sepeda motor.

Kepada masyarakat, Yatno juga merasa perlu mengimbau agar kepedulian terhadap lingkungan lebih ditingkatkan. Faktor keberanian anak untuk melakukan tindak melawan hukum bisa jadi juga dipicu kurangnya kepedulian dari lingkungan sekitar mereka.

“Masyarakat selayaknya lebih jeli mengawasi anak-anak yang berada di sekitarnya, sehingga ketika terjadi hal-hal yang mencurigakan bisa diantisipasi agar tak berkembang menjadi tindak kejahatan,” jelasnya. (ali/ton)