Dibangun, Embung Masih Kosong

380

SEMARANG – DPRD Jawa Tengah menyorot program 1.000 embung yang digalakkan Pemprov Jateng. Perencanaan yang kurang matang, membuat pelaksanaan di lapangan tidak maksimal. Bahkan, embung yang sudah terbangun terkesan hanya sebagai tempat penampung air hujan.

Anggota Komisi D DPRD Jawa Tengah, Muh Rodhi mengatakan, embung yang dibangun terkesan tak direncanakan matang. Bangunan sudah ada yang jadi, tapi sayang tidak ada air di dalamnya. Kondisi ini ditemukan ketika dewan melakukan kunjungan embung di Boyolali. ”Bahkan, bangunannya tidak ada aliran air. Jadi hanya sebatas menampung air hujan saja,” katanya.

Untuk yang renovasi sudah banyak membuahkan hasil. Air di dalam embung cukup banyak dan bisa untuk membantu petani sekitar. Tapi persoalan muncul, meski sudah dipagar banyak anak-anak yang bermain di dalam embung. ”Saya kira untuk pembangunan embung harus ada perencananan matang. Jika tidak ya hasilnya kurang maksimal,” ujarnya.

Dewan juga menilai program 1.000 embung hanya sebatas wacana. Sebab, untuk pembangunan satu embung saja membutuhkan alokasi anggaran sekitar Rp 1-3 miliar. Sedangkan sejauh ini pemprov juga belum mengalokasikan anggaran untuk program tersebut. ”Jika ini memang ingin direalisasikan bagus. Tapi jangan memberikan harapan ke masyarakat, tapi setelah itu tidak terbukti,” tambahnya.

Sebagai salah satu sentra produksi padi nasional, revitalisasi ataupun pembangunan embung di Jawa Tengah sangat dibutuhkan. Apalagi selama ini mayoritas sumber air irigasi mengandalkan curah hujan. Persoalan muncul ketika tak ada embung otomatis tidak ada tempat menyimpan air. ”Memang sekarang sudah ada embung, tapi jaringan irigasi tersier dan sekunder banyak yang rusak. Di beberapa daerah pintu besi irigasi disatroni maling,” kata Wakil Ketua Komisi B DPRD Jawa Tengah, Yudhi Sancoyo. (fth/ric/ce1)