Diminta Awasi Penggunaan Tanah

676

Mulanya, imbuh Lukman, tanah hak guna usaha atas nama PT Perkebunan Tratak dipakai untuk perkebunan yang berkembang baik. Namun seiring perkembangan waktu masalah keuangan mulai mengganggu perusahaan hingga sebagian besar tanah tidak terurus baik, bahkan tidak digunakan sesuai peruntukannya. Di sisi lain, masyarakat sekitar yang miskin sebagian besar tidak memiliki tanah, ditambah dengan kondisi sosial politik pasca reformasi yang sangat berpihak pada rakyat kecil, ikut memicu pengambilalihan lahan garapan oleh masyarakat. Sejak saat itu terjadi konflik antara perusahaan dan warga.

Terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 11 Tahun 2010 tentang Penertiban Pendayagunaan Tanah Telantar membawa angin segar bagi perjuangan masyarakat. Melalui sejumlah tahapan, tanah di Desa Tumbrep tersebut dinyatakan tanah telantar dan menjadi tanah cadangan umum negara. Selanjutnya, tanah dapat didayagunakan untuk kepentingan masyarakat melalui program reforma agraria sebanyak 425 bidang.

Menteri Agraria dan Tata Ruang Ferry Mursyidan Baldan meminta maaf jika proses pengurusan tanah tersebut membutuhkan waktu yang lama. Pihaknya berupaya melakukan penyelesaian tanpa menimbulkan persoalan di kemudian hari sehingga kemanfaatan tanah benar-benar untuk menenteramkan dan menyejahterakan rakyat. Bagaimana pun tanah adalah sesuatu yang melekat dengan riwayat kehidupan. Dengan kata lain, tanah memiliki riwayat dan tidak ada yang terputus riwayatnya.

”Dengan sertifikat ini tidak ada yang bisa mengutak-atik, mengganggu, apalagi mengusir. Mudah-mudahan. Menjadi dasar untuk kehidupan bapak ibu yang menenteramkan dan memakmurkan,” tegasnya.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meminta pemerintah kabupaten untuk ikut mengawasi penggunaan tanah di desa tersebut. Jangan sampai ada tanah yang dijual, sehingga dapat bermanfaat bagi warga. Tidak hanya itu, pemerintah diharapkan dapat ikut membantu masyarakatnya, antara lain dengan membuat infrastruktur pendukung di kawasan tersebut. Termasuk, saluran irigasi, embung, dan lainnya. (ric/ce1)