70 Persen Stres Berawal dari Masalah Keluarga

2998

”Prinsipnya target itu wajar atau tidak. Perusahaan harus bisa memanusiakan karyawannya. Kasihan mereka yang selalu ditekan dengan target yang di luar kemampuannya,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (13/2).

Dalam hal ini, Darodji tidak lupa mempertanyakan komitmen pemilik perusahaan untuk membantu karyawannya.

Menurutnya, hasil yang mereka dapat tidak lepas dari usaha yang telah dilakukan karyawannya sekaligus juga bantuan dari masyarakat. ”Mestinya mereka itu dilatih kerja, bukan malah dipaksa kerja,” katanya.

Ditegaskan dia, perusahaan yang baik adalah yang memotivasi karyawannya untuk bekerja. Selanjutnya ada upaya menjadikan mereka mandiri sesuai dengan keterampilan yang dimiliki. Karena itu, selain memberikan Corporate Social Responsibility (CSR), perusahaan juga berkewajiban memberikan pelatihan.

”Jangan hanya mengandalkan pemerintah yang dananya terbatas. Ingat, kekayaan yang dimiliki itu bukan hak pemilik perusahaan seluruhnya, tetapi juga ada hak orang lain,” bebernya seraya meminta pemerintah ikut andil dengan membuat regulasi yang tegas terkait hal tersebut.

Sementara bagi para karyawan yang merasa tertekan dengan target tersebut, Darodji meminta untuk tetap sabar dan selalu berusaha (ikhtiar). Jangan sampai malah terjerumus ke dalam lembah kemungkaran.

Menurutnya, jika dua hal tersebut telah dilakukan, selanjutnya adalah tawakkal atau menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT. ”Jangan pernah putus asa untuk memohon kepada Allah,” terangnya.

Di samping usaha batin, lanjut dia, usaha lahir juga tetap harus dilakukan. Yakni, dengan cara bekerja dengan baik sesuai kadar kemampuan. Jika ada rezeki lebih, ia minta untuk tidak segan-segan disisihkan sebagai modal usaha ketika telah keluar dari perusahaan.

”Memang kata Nabi (Muhammad), fakir atau miskin itu mendekatkan kekufuran. Tugas kita adalah selalu mendorong mereka agar tetap ke jalan yang benar,” katanya. (ewb/fai/aro/ce1)