Ada yang Berdoa, Ada yang Pergi Karaoke dan Pijat

Ketika Marketing-Marketing di Semarang Stres Dikejar Target

2740

MARKETING STRESS

Seorang sales atau marketing perusahaan pasti ditekan dengan berbagai macam target. Target ini satu sisi bisa bikin kerja lebih termotivasi, karena tentunya diiringi dengan berbagai bonus. Namun juga bisa membuat efek stres. Apalagi saat akhir bulan, ternyata target belum terpenuhi. Di Kota Semarang, tak sedikit marketing yang mengalami stres di akhir bulan. Seperti apa?

SELUK-beluk dunia kerja memang penuh warna. Sulitnya mencari pekerjaan mapan menjadi salah satu faktor seseorang tetap bertahan meski bekerja dalam kondisi batin tertekan. Salah satu jenis pekerjaan dilematis itu adalah sales atau marketing. Akibat dikejar-kejar target, tak jarang para marketing mengalami stres. Baik marketing kartu kredit, asuransi, bank, BPR, mobil, motor, koperasi, dan lainnya. Akibatnya, banyak marketing yang bekerja tidak jujur untuk menyiasati kondisi tersebut. Tak sedikit marketing yang bekerja setengah hati, karena bertentangan dengan hati nurani.

”Betul, saya akui bekerja menjadi marketing itu sangat dilematis. Satu sisi harus bekerja mencari nafkah untuk anak istri. Tapi di sisi lain, jujur sangat bertentangan dengan hati nurani,” kata salah seorang marketing sebuah koperasi di Semarang, Elka Misbah, 35, warga Purwodadi Grobogan saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (14/2).

Secara psikologis, kata Elka, tidak ada satu pun marketing yang bekerja tidak dalam kondisi tertekan. Semuanya tertekan oleh warning atasan, karena harus memikul target pencapaian oleh perusahaan. Di tempat dia bekerja, bahkan marketing memiliki tugas ganda. Artinya, targetnya juga ganda. Pertama, target kolektif angsuran untuk meminimalisasi tingkat kemacetan. Kedua, mencari nasabah kredit untuk pembiayaan (peminjam modal). Ketiga, mencari nasabah tabungan.

”Masing-masing memiliki target minimal Rp 200 juta per bulan. Biasanya, memasuki tanggal 20, kami para marketing mulai pusing tujuh keliling. Target minimal Rp 200 juta per bidang itu biasa, tidak hanya di tempat kami,” ujarnya.

Akibat dari kondisi itu, lanjut dia, para marketing kemudian melakukan upaya dengan berbagai cara. ”Misalnya untuk target kolektif angsuran, ada juga yang kemudian nomboki menggunakan uang pribadi dulu,” kata Elka.

Mengenai target kolektif angsuran sendiri menggunakan persentase 97 persen. Artinya, terang Elka, dari total angsuran bulanan harus masuk sebanyak 97 persen. ”Misalnya angsuran nasabah totalnya Rp 100 juta, maka target saya harus memasukkan Rp 97 juta di bulan itu juga. Itu belum target lain,” bebernya.

Celakanya, dari kerja keras yang sangat melelahkan tersebut, rata-rata marketing memiliki gaji minim. Bahkan ada juga yang digaji di bawah standar Upah Minimum Kabupateng/Kota (UMK). ”Tidak ada insentif, adanya bonus kinerja. Bonus itu pun hanya sebesar 0,2 persen dari hasil kinerja. Misalnya, saya mampu menagih Rp 50 juta, maka bonus kinerja yang saya terima hanya senilai Rp 100 ribu. Lha ya mumet bos, jelas tidak imbang. Cenderung kerja diperas, sedangkan gaji terbatas. Benar kata orang yang menyebut, kerja maksimal dengan gaji minimal,” ujar Elka sambil tertawa.

Menurutnya, untuk kelas perusahaan pembiayaan, manajemen perusahan koperasi syariah tempat ia bekerja masih terbilang kecil, meski saat ini telah memiliki sebanyak tujuh cabang di Jateng, termasuk di Kota Semarang.

”Karena menggunakan konsep syariah, maka perusahaan kami tidak melibatkan debt collector eksternal. Akibatnya, marketing memiliki tugas ganda. Jadi, marketing juga merangkap sebagai debt collector. Sistem yang digunakan menggunakan prinsip kekeluargaan, karena menganut asas Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS),” terang pria yang belakangan ditugaskan di salah satu koperasi syariah cabang Weleri ini.

Pengalaman paling menyedihkan, lanjut Elka, adalah jika bertemu nasabah yang tidak bisa membayar. Dia sudah pasrah, karena tidak punya materi. ”Mau ditagih memakai cara apa pun, lha wong dia tidak punya uang. Ibarat mbok disembelih ki lho mas ora ono getihe. Kalau sudah seperti itu ya harus bagaimana lagi,” ceritanya.

Sedangkan pengalaman menyenangkan karena terbentuk jaringan link sesama marketing, termasuk jaringan dengan nasabah yang akrab. ”Tak jarang, bisnis lain bisa terbentuk dari jaringan tersebut. Saya pernah dapat nasabah seorang pengusaha peternakan. Sekali menabung Rp 100 juta. Hubungan dengan marketing sudah seperti saudara, malah kalau ada bisnis meminta untuk menjadi partner,” katanya.

Disinggung terkait tekanan batin, kenapa para marketing tetap bertahan? Elka menjelaskan, faktor usia memengaruhi seseorang yang telanjur terjun di dunia marketing. ”Misalnya, usia sudah 30 tahun ke atas, mau banting setir pun juga kepalang tanggung. Bertahan ya karena kebutuhan hidup. Stres ya tetap dilakoni saja,” ujarnya.

Mengenai kondisi batin marketing yang tertekan, ia mengaku 100 persen benar. Bahkan kata dia, semakin tinggi jabatan seorang yang bekerja dalam bidang marketing, semakin tinggi pula tekanan batin yang ditanggung. Sebab, beban target yang harus dipikul juga semakin berat. ”Sesukses-suksesnya marketing saya jamin, dia pasti stres. Semakin tinggi jabatannya, maka targetnya semakin banyak,” ungkapnya.

Bagaimana untuk menyiasati atau menanggulangi kondisi batin yang tertekan? Elka mengakui setiap pribadi memiliki latar belakang berbeda. Ada yang bijak dan religius. Tapi ada juga yang menjadi penganut budaya pop. ”Yang religius ya cukup dengan sabar dan dijalani aja. Yang agak bebas dikit, banyak teman yang jika stres ujung-ujungnya mabuk dan nyanyi karaoke, ada juga yang pergi massage (pijat),” katanya sambil tersenyum.

Lebih lanjut dikatakannya, tak jarang para marketing diam-diam menyusun strategi agar bisa lepas dari pekerjaan tersebut secara pelan-pelan. Salah satu cara yang dilakukan dengan menabung deposito. ”Kepala marketing saya juga demikian, dia memasukkan deposito sendiri di koperasi setempat. Uang bunga deposito per bulan bisa Rp 3 juta. Jika dipecat sekalipun, sudah punya uang dari bunga deposito,” ujarnya.

Marketing Asuransi Axa, Resa Utomo, mengaku, stres dikejar target justru berhasil diolah menjadi pompa motivasi. Menurutnya, pekerjaan tanpa disisipi rasa stres, tidak akan punya semangat bekerja secara optimal. ”Marketing itu balance. Kalau tidak nutup target memang stres. Tapi kalau bisa mencapainya, rasanya plong banget,” tuturnya.

Di tempatnya bekerja, target per bulan mencapai Rp 10 juta-Rp 20 juta. Target itu harus dipikul satu tim yang terdiri atas 8 orang. Sementara asuransi yang ditawarkan, rata-rata Rp 400 ribuan per item. Artinya, masing-masing marketing wajib menangkap minimal lima klien per bulan.

Jika tidak mencapai target, lanjut Resa, komisi yang diterima tergolong tidak seberapa. Ini yang kerap membuat seorang marketing makin merasa tertekan. Sebab, operasional yang dikeluarkan ketika memprospek tidak sebanding dengan komisi yang didapat.

”Penghasilan utama kan dari komisi. Kalau pas tidak nutup target, hanya terima sedikit. Padahal, operasional bekerja cukup besar. Seperti bensin, makan, hingga entertain calon klien,” jelasnya.

Kalau sudah seperti itu, di balik rasa stresnya, Resa menyimpan motivasi untuk makin semangat mencari klien di bulan depan. Selain itu, dia juga melakukan evaluasi internal tim untuk me-review, hal mana yang membuat mereka tidak bisa menutup target di bulan tersebut.

”Kalau dipikir-pikir, memang susah. Harus ada strategi sendiri. Biasanya, kami mapping area setiap akhir bulan untuk mengatur strategi seperti apa yang harus dilakukan bulan depan,” katanya.

Bagi Resa, marketing asuransi tergolong paling susah. Sebab, zaman sekarang, makin sedikit orang yang percaya dengan asuransi. Terutama mengenai pencairan ketika klaim asuransi. Jadi, kalau tidak kenal betul dengan calon klien yang dibidik, kemungkinan besar akan langsung ditolak meski belum sampai ke tahap presentasi. Bahkan ketika mengenalkan diri sebagai marketing asuransi.

Karena itu, Resa kerap mengandalkan link dari klien yang sudah didapatnya. Dia melobi klien tersebut untuk dikenalkan dengan relasi agar mau ikut asuransi yang ditawarkan. ”Nah, inilah yang paling saya suka di dunia marketing. Ketika seseorang bukan sekadar menjadi klien, tapi rekan kerja. Memberikan jalan, bahkan mau bantu memprospek teman atau keluarganya,” ucapnya.

Meski tergolong berat, Resa mengaku tidak akan meninggalkan dunia marketing. Menurutnya, marketing merupakan hal wajib di setiap perusahaan yang menjual produk. Di mana ada barang atau jasa yang bisa dijual, ranah marketing lah yang bisa menjadi kunci suksesnya penjualan. ”Mungkin saya baru bisa berhenti jadi marketing ketika sudah sampai pada tingkatan porsi kerja duduk dan memantau saja,” katanya sambil tersenyum.

Beda lagi dengan Marketing PT Federal International Finance (FIF), Ivan Yulianto. Ia mengakui stres pasti ada, namun ia mengaku selalu berusaha dan berdoa serta terus berusaha supaya di bulan-bulan berikutnya bisa memenuhi target dari perusahaan.

Menurutnya, dunia marketing sangat menyenangkan apalagi saat dikejar target dan di saat akan closing atau tutup buku. ”Saya bisa puas kalau terpenuhi di saat itu (closing, Red), kalau tak tercapai paling disemprot pimpinan,” ujarnya.

Ari Budiman, Marketing PT Arta Boga mengatakan, apabila target penjualan tidak terpenuhi, maka hal yang ia lakukan adalah menjadi sniper dadakan dengan segala kesiapan risiko. ”Sniper dadakan itu artinya orang pesen tapi saya orderi dulu. Jadi, seolah barangnya habis, tapi semua serba kucing-kucingan dengan kantor Mas. Siap risiko,” kata Ari.

Ari juga mengaku pernah stres saat target tak terpenuhi. Untuk mengusir stres itu, biasanya ia memperbanyak ibadah dan doa. ”Bagi saya, doa lebih ampuh, daripada pergi jengjeng tidak jelas,” ujarnya.

Sementara itu, ketatnya persaingan antarsales mobil, tak jarang membuat para sales atau marketing dilanda stres. Apalagi setiap bulan, profesi marketing mobil diwajibkan harus bisa menjual minimal 10 unit mobil. Namun pekerjaan yang penuh tekanan itu ternyata tidak membuat mereka langsung menyerah, dan lebih suka menganggapnya sebagai tantangan.

Seperti yang dilakukan Nisita Niti Arifa, sales mobil di salah satu diler ternama di Kota Semarang. Meskipun pekerjaan yang jalani bisa dibilang sangat berat. Ia mengganggapnya sebagai sebuah tantangan yang harus ditaklukkan, dan bukanlah sebuah beban.

”Ya, memang ada beban psikologi, apalagi kalau ada komplain. Misalnya, barang yang dipesan hilang, jadi harus melakukan renegosiasi kepada klien,” kata wanita kelahiran Salatiga, 22 Mei 1991 ini.

Sita –sapaan akrabnya— mengaku jika setiap bulan dirinya harus bisa menjual mobil, sehingga harus bertemu orang-orang baru dengan berbagai karakter. Terkadang dalam menjual produk, ia harus melakukan pendekatan tersendiri. ”Itu bisa dianggap tantangan, karena saya memang suka tantangan. Kalau dukanya pernah ditolak mentah-mentah oleh calon pembeli sehingga harus kuat mental,” ucap gadis berwajah cantik ini.

Agar produk yang ditawarkan terjual, Sita memiliki cara tersendiri dalam menggaet calon pelanggan, di antaranya dengan bersikap dan bertutur secara elegan dan harus meyakinkan. ”Pengetahuan tentang produk pun harus dikuasai, sehingga bisa menjawab apa yang ditanyakan calon pembeli, dengan tujuan bisa mendapatkan hasil positif dan tentunya reward dari perusahaan,” ujarnya.

Meski sudah lama berkecimpung di dunia sales, Sita mengaku pernah beberapa kali tidak memenuhi target yang ditentukan. Hal tersebut membuat dirinya tertekan dan terkadang stres. Namun ia tetap berusaha agar target yang dipatok pimpinannya bisa tercapai.

”Kadang stres juga, kalau sudah begitu yang saya lakukan adalah pergi berlibur dengan keluarga di akhir bulan untuk membuat pikiran jadi fresh dan rileks,” paparnya.

Bekerja dengan penuh tekanan, tidak membuat diri Sita bosan. Apalagi ia mendapatkan sisi positif menjadi sales atau marketing, salah satunya adalah punya banyak relasi hingga mendapatkan bonus yang besar ketika target bisa terpenuhi dan tentunya jenjang karir yang jelas. ”Kalau sudah nyemplung ya harus total, tapi kalau sudah nikah nanti saya akan berhenti jadi marketing. Karena pekerjaan itu menyita banyak waktu dan tenaga,” katanya. (amu/amh/jks/den/aro/ce1)