Permintaan Kopi Menurun

358

SEMARANG – Permintaan kopi sebagai komoditas ekspor pada awal tahun ini mengalami penurunan. Hal tersebut sebagai dampak penerapan sistem stok pabrik, dari yang biasanya pengusaha pengolah biji kopi membeli kopi untuk stok antara 4-6 bulan, kini bergeser jadi maksimal tiga bulan.

“Permintaan untuk ekspor memang sudah ada, tapi untuk kuartal kedua. Sedangkan untuk kuartal pertama ini permintaan masih sepi,” ujar Wakil Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Jawa Tengah, Moleyono Soesilo, kemarin.

Menurutnya, penurunan permintaan kopi ini sifatnya hanya sementara, karena konsumsi kopi secara global tidak mengalami penurunan. Terlebih di negara-negara tujuan ekspor seperti Jepang, Malaysia, Korea dan Timur Tengah. “Hanya saja memang saat ini pabrikan memperkecil jangka waktu stok yang mereka simpan. Hal tersebut dilakukan untuk menghemat biaya penyimpanan,” jelasnya.

Namun demikian, hal ini juga ikut mempengeruhi harga komoditas kopi awal tahun mengalami penurunan cukup signifikan. Harga kopi jenis Robusta pada awal 2015 USD 1.800 per ton kemudian merosot menjadi USD 1.3400 per ton di awal tahun ini. Demikian juga dengan harga kopi jenis Arabica. Dari yang awal tahun 2015 harga berada pada level USD 200 per lips, turun menjadi USD 115 per lips pada Januari 2016. Namun harga ini juga masih dimungkinkan mengalami penurunan lagi.

Kembali menurunnya harga kopi, selain permintaan yang turun menurutnya juga karena anggapan bahwa tahun ini panen akan melimpah. Padahal ada beberapa hal yang justru diprediksi menjadikan panen kopi tahun ini mengalami penurunan. Yaitu dampak elnino pada tahun lalu. “Ekspektasi panen tahun ini tidak ada masalah. Semua over estimate cuaca tidak ada masalah. Tapi mungkin setelah hasil survey dari Brasil keluar, harga bisa sedikit alami koreksi,” sebutnya.

Sementara itu, untuk hasil panen kopi Jawa Tengah, tahun ini diprediksi mengalami penurunan hingga 20 persen. Hal ini disebabkan dampak dari fenomena alam El Nino. Di mana saat kopi mulai berbunga kemudian terkena hujan, maka akan rontok, sehingga produksinya menurun. (dna/smu)