Teliti Geliat Bisnis Generasi Ketiga, Andreas Raih Doktor

714
MITOSIS BISNIS: Andreas Heryjanto saat Ujian Terbuka Program Studi Doktor Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga di ruang Probowinoto, Jumat (12/2) lalu. (DHINAR SASONGKO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MITOSIS BISNIS: Andreas Heryjanto saat Ujian Terbuka Program Studi Doktor Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga di ruang Probowinoto, Jumat (12/2) lalu. (DHINAR SASONGKO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MITOSIS BISNIS: Andreas Heryjanto saat Ujian Terbuka  Program Studi Doktor Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga di ruang Probowinoto, Jumat (12/2) lalu. (DHINAR SASONGKO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MITOSIS BISNIS: Andreas Heryjanto saat Ujian Terbuka Program Studi Doktor Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga di ruang Probowinoto, Jumat (12/2) lalu. (DHINAR SASONGKO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SALATIGA-Riset mengenai permasalahan generasi ketiga bisnis keluarga mengantar Andreas Heryjanto meraih gelar doktor dalam Ujian Terbuka Program Studi Doktor Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Jumat (12/2) lalu, di ruang Probowinoto dengan predikat cumlaude.

Disertasi berjudul ‘’Mitosis-Bisnis: Strategi Generasi Ketiga Lunpia Semarang Mempertahankan Keberlanjutan-Bisnis” berhasil dipertahankan di hadapan para penguji. Dalam disertasinya, Andreas menuangkan gagasan bahwa penelitian tentang bisnis keluarga, khususnya generasi ketiga masih terbatas. Pembahasan bisnis keluarga menjadi begitu menarik, karena perannya yang penting dalam perekonomian di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Business Advisor & Trainer serta Komisaris BPR ini membeberkan, banyak penelitian menunjukkan hanya sekitar 13 persen proses suksesi bisnis keluarga yang berhasil sampai generasi ketiga. “Disertasi ini mengambil Lunpia Semarang sebagai objek penelitian. Hal ini disebabkan Lunpia Semarang sebagai sebuah bisnis keluarga berhasil melewati generasi ketiga, dan saat ini berada di tangan generasi ke empat,” terang pria kelahiran Jakarta, 52 tahun silam ini.