Ekspor Jawa Tengah Turun

363

SEMARANG – Nilai ekspor Jawa Tengah pada bulan Januari mengalami penurunan sebesar 7,68 persen dibanding Desember tahun lalu. Yaitu dari USD 455,28 juta menjadi USD 420,32 juta. Penurunan terbesar terjadi pada ekspor tekstil.

Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah, Jamjam Zamachsyari mengatakan, penurunan nilai ekspor terjadi pada komoditas non migas sebesar 8,79 persen. Yaitu dari USD 450,06 juta pada Desember tahun lalu menjadi USD 410,48 juta pada Januari tahun ini. Penurunan yang cukup signifikan terjadi pada kelompok komoditas tekstil dan barang tekstil. Yaitu dari USD 212,20 juta pada Desember tahun lalu menjadi USD 168,72 juta pada bulan Januari tahun ini. Atau turun sebesar USD 43,49 juta. “Padahal sektor ini memiliki pangsa pasar sebesar 40,14 persen dari total ekspor Jawa Tengah,” ujarnya, kemarin.

Namun demikian, terjadi kenaikan pada ekspor komoditas kayu dan barang dari kayu sebesar USD 8,14 juta. Komoditas ini memiliki kontribusi sebesar 19,69 persen dari total ekspor di Jawa Tengah. Komoditas ketiga pemberi komoditas terbesar lainnya yaitu barang hasil pabrik. Dengan total ekspor pada bulan Januari sebesar USD 56,21 juta.

Sedangkan negara pangsa pasar utama selama bulan Januari adalah Amerika Serikat, Tiongkok dan Jepang. Masing-masing ekspor ke negara tersebut mencapai USD 105,85 juta, USD 45,47 juta dan USD 42,17 juta. “Peranan ketiga negara tersebut terhadap total ekspor Jawa Tengah periode Januari mencapai 46,06 persen,” bebernya.

Jamjam menambahkan, penurunan tak hanya terjadi pada ekspor tapi juga pada impor. Nilai impor Jawa Tengah pada bulan Januari mencapai USD 688,47 juta. Turun sebesar 12,81 persen dibanding impor pada Desember tahun lalu yang sebear USD 789,62 juta.

Sementara negara pemasok barang impor terbesar ke Jawa Tengah selama bulan Januari adalah Tiongkok, Arab Saudi dan Nigeria. Dengan nilai impor masing-masing sebesar USD 188,72 juta, USD 121,49 juta dan USD 72,01 juta. (dna/smu)