Tertangkap Razia, Dibina di Jakarta 6 Bulan

493
PEKAT: Petugas Polrestabes Semarang dan Satpol PP membawa sejumlah PGOT ke truk dan akan dibawa ke Mapolrestabes, selanjutnya dikirim ke Jakarta. (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang)
PEKAT: Petugas Polrestabes Semarang dan Satpol PP membawa sejumlah PGOT ke truk dan akan dibawa ke Mapolrestabes, selanjutnya dikirim ke Jakarta. (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang)
PEKAT: Petugas Polrestabes Semarang dan Satpol PP membawa sejumlah PGOT ke truk dan akan dibawa ke Mapolrestabes, selanjutnya dikirim ke Jakarta. (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang)
PEKAT: Petugas Polrestabes Semarang dan Satpol PP membawa sejumlah PGOT ke truk dan akan dibawa ke Mapolrestabes, selanjutnya dikirim ke Jakarta. (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang)

SEMARANG – Sebanyak 22 orang Pengemis Gelandangan dan Orang Tua Telantar (PGOT) termasuk pak ogah dan pengamen jalanan terjaring razia Operasi Bina Kusuma Candi 2016. Mereka langsung dikirim ke Jakarta untuk mendapat pembinaan.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, Senin, (15/2) kemarin, razia dilakukan oleh petugas Polrestabes Semarang didampingi Satpol PP Kota. Terlihat petugas sempat melakukan kejar-kejaran dengan para pengamen lantaran berusaha melarikan diri ketika mengetahui kedatangan petugas. Razia menyisir mulai dari Jalan Veteran menuju Sriwijaya dan Terminal Penggaron. PGOT yang terjaring razia rata-rata usia dewasa dan lanjut usia.

Kepala Sat Binmas Polrestabes Semarang, AKBP Restiana Pasaribu mengatakan Operasi Bina Kusuma Candi 2016 bertujuan untuk mewujudkan Kota Semarang kondusif bebas dari potensi premanisme. Operasi Bina Kusuma Candi 2016 dimulai sejak 5 Februari lalu hingga 5 Maret 2016 mendatang. ”Razia ini kita lakukan selama 30 hari. Target sasaran preman, pak ogah, PGOT, gepeng, pengamen berkedok kesenian, parkir liar, calo tiket, dan debt collector,” ungkapnya di sela kegiatan kemarin.