Guru Belum Siap Hadapi MEA

550

SEMARANG – Para guru dinilai belum siap menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sekarang ini. Pasalnya, kompetensi guru saat ini masih rendah. Karena itu, pembenahan dunia pendidikan melalui sertifikasi guru harus dilakukan. ”Kita kalau berbicara secara global guru di Indonesia belum siap hadapi MEA,” kata Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes), Fathur Rokhman saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang usai pembagian sertifikat pendidik guru di kampus Unnes Sekaran, Kamis (18/2).

Namun saat ini, lanjut dia, meski sudah diberikan sertifikat bagi pendidik, banyak kasus ditemukan di lapangan sertifikasi tidak digunakan sebagaimana mestinya. Dia mengakui, banyak sertifikasi yang justru digunakan oleh guru untuk kepentingan pribadi.

”Berbagai hasil riset dan amatan dari masyarakat ternyata kurang adanya korelasi yang signifikan antara sertifikasi guru dengan prestasi siswa,” ujarnya.

Selain itu, menurut Fathur, kurang adanya korelasi antara sertifikasi dan kinerja guru. ”Termasuk kompetensi guru yang saat ini masih rendah, ini secara nasional. Kemudian budaya kerja guru harus ditingkatkan,” tandasnya.

Tidak dimungkiri, saat ini memang sudah banyak guru yang berprestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional. ”Memang kita masih ada guru-guru yang berprestasi dan bisa melahirkan siswa yang berkompetensi,” katanya.

Persoalan lain yang saat ini muncul, yakni minimnya pemahaman seputar penggunaan dan pengertian guru terkait dengan teknologi informasi. ”Apalagi berbahasa asing, yang dalam MEA itu sangat dianjurkan untuk menguasainya,” ujarnya.

Dalam Undang-Undang Guru dan Dosen Nomor 15 tahun 2005 mengamanatkan untuk menjadikan guru sebagai jabatan profesional. Sementara jabatan profesional itu memerlukan syarat. Antara lain, kualifikasi, kompetensi yang harus diuji dengan pola PPG, serta dibuktikan dengan tingkat kelulusan yang menerbitkan sertifikat profesi.