Pakai Tape Oven, Pelanggannya Wisatawan Belanda

Abdul Wahid, Pensiunan Guru yang Lestarikan Kuliner Khas Semarang, Buffet Ijs

773
HAMPIR PUNAH: Abdul Wahid yang berjualan menu kuliner khas Semarang, Buffet Ijs. (ADENNYAR WYCAKSONO / JAWA POS RADAR SEMARANG)
HAMPIR PUNAH: Abdul Wahid yang berjualan menu kuliner khas Semarang, Buffet Ijs. (ADENNYAR WYCAKSONO / JAWA POS RADAR SEMARANG)
HAMPIR PUNAH: Abdul Wahid yang berjualan menu kuliner khas Semarang, Buffet Ijs. (ADENNYAR WYCAKSONO / JAWA POS RADAR SEMARANG)
HAMPIR PUNAH: Abdul Wahid yang berjualan menu kuliner khas Semarang, Buffet Ijs. (ADENNYAR WYCAKSONO / JAWA POS RADAR SEMARANG)

Abdul Wahid adalah pensiunan guru. Untuk mengisi masa tuanya, dia berjualan kuliner asli Semarang yang nyaris punah, namanya Buffet Ijs. Seperti apa?

ADENNYAR WYCAKSONO

SIANG kemarin, matahari bersinar cukup terik. Bagi Abdul Wahid, cuaca seperti itu justru yang selalu diharapkan. Sebab, dengan begitu, minuman jualannya akan laku keras.

Ya, pria yang akrab disapa Pak Wahid ini memang berjualan minuman es. Ia mangkal di kawasan Kota Lama, tepatnya di depan RM Ikan Bakar Cianjur atau di dekat Gereja Blenduk Semarang.

Dengan gerobak sederhana bertuliskan Bogado Es Tempoe Doeloe, pria kelahiran Semarang, 31 Desember 1960 ini menawarkan sensasi kuliner asli Semarang yang sudah mulai dilupakan.

Wahid menjelaskan, nama Bogado adalah minuman yang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda dulu. Dulu nama es yang dijual adalah buffet ijs atau dalam bahasa Indonesia adalah es yang disajikan dengan cara prasmanan.