Sempat Minder, Kini Warungnya Jadi Langganan Pejabat

Afika Purwaningsih Sukses Tekuni Bisnis Kuliner

1012

“Omzet pertama sekitar Rp 500 ribu, sekarang sekitar Rp 5 juga per hari,” jelasnya yang mengaku dalam sehari, bisa menghabiskan 25-50 kilogram beras dan 40-100 kilogram untuk iga sapi.

Ia membangun pemasaran dengan penuh perjuangan. Dari instansi satu ke instansi lainnya, dan dari rumah satu ke rumah lainnya, ia sambangi. Afika membagi brosur kepada calon pembeli. Cara itu, dia lakukan sendiri.

“Awalnya minder, tapi bismillah saya coba saja, dan alhamdulillah pada cocok,” ungkapnya saat ditemui di warungnya yang berlokasi di Jalan Soekarno Hatta no 288 Banar, Mungkid, Kabupaten Magelang.

Sekarang, ibu empat anak ini membuka cabang pertamanya di Jogjakarta. Kata perempuan kelahiran Magelang, 4 Mei 1971, cabang pertamanya berdasarkan permintaan terbanyak dari para pelanggannya. “Banyak yang minta buka cabang di sana,” akunya.

Perempuan berhijab ini punya kiat sukses. Yakni niat, semangat, berdoa, dan harus ulet. “Sebagian uang ditabung, sebagian untuk mengembangkan usaha,” tambahnya.

Ia juga memegang prinsip jujur dalam berjualan. Apalagi soal rasa, tidak boleh berubah. “Bisnis kuliner itu harus mempertahankan pelayanan, rasa, kebersihan dan kenyamanan,” tuturnya.

Tak ingin ada penurunan kualitas pelayanan dari karayawannya, bersama suami, Afika mengumpulkan karyawan setiap tiga hari sekali. Mereka diberi arahan, dan tetap dimotivasi.

Menjadi teman menarik sop senerek, Afika juga menyediakan menu minuman es beras kencur dan gula asem. Jejamuan itu sengaja ia hadirkan untuk menambah kesan dari para pelanggannya. Di sisi lain, melestarikan minuman tradisional nusantara.

Menjadi suatu kebanggaan juga, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sudah dua kali mampir dan mencicipi menu-menu yang disediakan warung makan Afika. Selain itu, bupati maupun jajarannya juga sering makan siang di sana.

Istri Wasto yang merupakan warga asli Salam Kanci, Bandongan, Kabupaten Magelang itu bisa merasakan hasil dari usahanya. Ia bisa membeli tanah, toko, rumah, kendaraan dan sebagainya. Paling terkesan, jerih payahnya itu mengantarkan anak-anaknya menjadi orang sukses. Anak pertama bekerja di perbankan, anak kedua bekerja di perpajakan, anak ketiga menjadi anggota Polri dan anak terakhirnya masih SD. “Prinsip saya, biaya pendidikan harus saya utamakan,” tegasnya. (*/lis)