Tekan AKI lewat Program ’Inceng Wong Meteng’

658

Dari data tersebut, sepertiga ibu hamil mengalami sejumlah penyakit mematikan. Di antaranya karena penyakit anemia kronis dan penyakit jantung. Karena itu Yulianto terus coba menurunkan angka kematian ibu melahirkan dengan program expanding maternal and neonatal survival (EMAS), program ini menunjuk 15 rumah sakit, 19 puskesmas, dan 5 Dinas Kesehatan kabupaten/kota sebagai tim mentor, serta 26 dokter spesialis sebagai tim pendamping audit maternal perinatal (AMP).

Yulianto menjelaskan, pada tahun ini upaya penyelamatan ibu dan bayi baru lahir akan diintegrasikan, disinergikan dan berkelanjutan. Nantinya, akan ada enam kabupaten yang melaksanakan replikasi kebijakan itu. Yakni Kabupaten Pati, Pemalang, Batang, Kendal, Banjarnegara, dan Kudus. ”Replikasi itu berdasarkan praktik program EMAS di tujuh kabupaten/kota di jateng yang dianggap berhasil,” tegasnya.

Sementara itu, Ganjar Pranowo mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk ikut menyukseskan program inceng wong meteng atau Inspeksi Visual Asam/Intip Vagina Anda (IVA). ”Kalau melihat ada orang hamil, tolong tanyakan, apakah sudah dicek atau belum. Sehat atau tidak,” ucapnya.

PKK bisa berperan secara proaktif untuk mendorong perempuan melakukan tes IVA dan mendorong peningkatan kesehatan dan gizi balita melalui Posyandu. Baginya, kasus kematian ini harus bisa segera ditekan. Sebab, beberapa waktu lalu, kata Ganjar, ada tim dari negara asing yang datang untuk memantau mulusnya program ini. ”Memang 2015 sudah menurun dari 2014. Tapi belum signifikan,” lanjutnya.

Ganjar pun mengaku heran karena jumlah AKI dan AKB tertinggi justru terjadi di kota-kota besar, termasuk Semarang. Padahal, jika dinalar, fasilitas rumah sakit, kualitas dokter, dan penunjang kesehatan lain, lebih lengkap daripada di kabupaten. ”Berarti perlu penataan sistem. Ada yang harus dibenahi di sini. Kami akan mengundang beberapa rumah sakit yang terlibat untuk memburu masalah ini,” pungkasnya. (amh/zal/ce1)