34 Jukir Liar dan Debt Collector Terjaring Razia

722

Diakuinya, kegiatan razia sudah dilakukan sejak beberapa waktu lalu dengan targetnya pengemis, gelandangan, orang gila dan telantar (PGOT), Pak Ogah, dan pengamen berkedok kesenian. Ratusan orang yang terjaring kini ditampung di Panti Rehabilitasi Sosial (Resos) Among Jiwo, Ngaliyan. Mereka dilakukan pendataan, penyuluhan serta pembinaan, dengan harapan bisa berubah dan memiliki kemauan ke arah yang lebih baik.

”Sementara ditampung di Resos Among Jiwo Ngaliyan, karena tidak ada yang mau dikirim ke Jakarta (panti yang disediakan Kementerian Sosial, Red). Mereka juga sanggup membuat surat pernyataan untuk menaati peraturan yang ada. Memang kementerian sudah menyiapkan tempat, tapi harus ada persyaratan seperti data di sini atau tempat asal,” jelasnya.

Kasi Pengendalian dan Pengawasan Perparkiran Dishubkominfo Kota Semarang, Danang Kurniawan, mengakui, telah melakukan pendataan dan pembinaan kepada para jukir liar yang tertangkap razia tersebut. Menurutnya, saat ini mereka yang tertangkap razia telah ditampung di Panti Resos Among Jiwo Ngaliyan selama sehari.

”Besok (hari ini) mereka kita lepaskan setelah ada surat dari pihak RT/RW dan kelurahan tempat asal yang bersangkutan. Yang membebaskan pihak kepolisian dan Dinsospora. Tapi dengan syarat membuat pernyataan tidak mengulangi lagi,” katanya.

Menurut dia, sebelumnya pihak Dishubkominfo telah memberikan peringatan dan bahkan razia kepada para jukir liar dengan alasan tidak mengantongi izin. Namun peringatan tersebut tidak diindahkan oleh para jukir liar. ”Ini sudah kita data, kalau besok tertangkap lagi ya kita kirim ke Jakarta untuk pembinaan. Kalau dari kita biasanya kita kenakan pasal tipiring. Tapi dalam razia Bina Kusuma Candi akan dikirim ke Kementerian Sosial di Jakarta,” tegasnya. (mha/aro/ce1)