Ciswak, Bakar Replika Kapal

1212
TOLAK BALA: Warga keturunan Tionghoa membakar replika kapal dan patung kertas saat ritual ciswak di Kelenteng Sam Poo Kong Semarang, Senin (22/2). (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TOLAK BALA: Warga keturunan Tionghoa membakar replika kapal dan patung kertas saat ritual ciswak di Kelenteng Sam Poo Kong Semarang, Senin (22/2). (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TOLAK BALA: Warga keturunan Tionghoa membakar replika kapal dan patung kertas saat ritual ciswak di Kelenteng Sam Poo Kong  Semarang, Senin (22/2). (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TOLAK BALA: Warga keturunan Tionghoa membakar replika kapal dan patung kertas saat ritual ciswak di Kelenteng Sam Poo Kong Semarang, Senin (22/2). (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

NGEMPLAK SIMONGAN – Ratusan warga Tionghoa Semarang, kemarin (22/2), mengikuti upacara ciswak atau tolak bala. Kegiatan yang berlangsung di halaman Kelenteng Sam Poo Kong tersebut disambut antusias warga. Ritual ciswak dilaksanakan saat cap go meh atau hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek dengan maksud untuk menghindari berbagai malapetaka dan kesialan.

Sebelum upacara ciswak berlangsung, dilakukan sembahyang bersama. Setelah itu, dilanjutkan memasukkan patung kertas berikut nama-namanya ke dalam replika kapal lalu dibakar. Nama-nama yang ditulis dalam orang-orangan kertas tersebut adalah warga Tionghoa yang shionya bertentangan dengan shio tahun ini, yakni monyet api. Di antaranya, Tony Widyanto yang memiliki shio ayam dan Lily Permatasari yang memiliki shio babi.

Sedangkan replika kapal berkepala naga tersebut merupakan perlambang kendaraan yang akan membawa tolak bala kepada dewa. Sehingga doa-doa bisa terkabul.

Salah seorang warga Tionghoa, Veronika, 45, mengaku, mengikuti kegiatan tersebut untuk tolak bala. Sebab, shionya bertentangan dengan shio tahun ini, monyet api.
”Kalau bertentangan, maka harus mengikut ritual ini agar nantinya semuanya lancar. Baik rezeki atau yang lainnya,” katanya.

Veronika mengaku, ritual ciswak sudah ada sejak zaman lampau, yakni upaya seseorang untuk mengurangi ketidakserasian dalam tahun berjalan. ”Memang banyak ragam tentang ciswak, tetapi intinya adalah untuk tolak bala,” jelasnya. (hid/aro/ce1)