Gerindra Bergeming Oposisi

526

banner atas  artikel iklan-web

Oleh: Enar Ratriany Assa, SIP

PARTAI Gerindra makin mempertegas sikap sebagai partai oposisi dalam peringatan hari jadinya ke-8 pada 6 Februari 2016. Pernyataan Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto yang sengaja tidak mengundang partai lain merupakan isyarat Gerindra ditinggal kawan politiknya. Dalam momentum perayaan ulang tahun secara sederhana Prabowo menegaskan tidak mengundang partai lain karena ingin memperkuat internal partai. Namun kepastian bubarnya Koalisi Merah Putih atau KMP yang sengaja dibuat untuk kepentingan Pilpres 2014 disampaikan secara tersirat dari pernyataan Sekjen Gerindra, Ahmad Muzani. ”KMP yang dulu mengusung menjadi kekuatan ekstra mengontrol pemerintah, sekarang hampir setahun setengah satu per satu keluar, karena itu de facto KMP sudah bubar,”.

Ini menjadi bukti jika Gerindra mulai ditinggalkan partai pengusung koalisi merah putih. Hanya PKS yang menjadi satu-satunya partai selain Gerindra bertahan di KMP. Tetapi secara hakikat makna koalisi adalah bersekutu, itu artinya Gerindra tidak lagi memiliki sekutu karena kini kontrol terhadap pemerintah akan kian lemah. Pada mulanya kepercayaan diri KMP didapatkan dari keterlibatan Partai Golkar sebagai partai yang sudah lama bertengger di kancah perpolitikan tanah air. Kita tahu betul sejak era presiden Soeharto atau di era keemasan orde baru Golkar merajai peta politik Indonesia saat itu.

Meski demikian, Gerindra menunjukkan kepercayaan diri dengan menegaskan tetap menjadi partai oposisi pemerintah. Sikapnya ditujukan agar pemerintah di era Presiden Joko Widodo tetap ada yang mengontrol jika ada kebijakan yang menyimpang. Meski oposisi, Gerindra menegaskan tidak akan asal-asalan dan selalu menolak program pemerintah. Dalam konteks tertentu akan mengambil sikap konstruktif, jika ada gagasan pemerintah yang baik dan sesuai prosedur pasti akan didukung.

Isyarat bubarnya KMP sebetulnya telah lama tercium. Mengingat koalisi ini dibuat untuk kepentingan Pilpres 2014. Di awal terbentuknya koalisi publik sudah diperlihatkan dari adanya perpecahan salah satu partai pengusung KMP, yaitu PPP. Partai berlambang Kakbah ini terbagi menjadi dua kubu, Surya Dharma Ali dan Rohmahurmuziy (Romi). Sebagaimana kita ingat bahwa beberapa waktu PPP menyatakan bergabung dengan KMP, Surya Dharma Ali terjerat kasus korupsi di Kementerian Agama. Sementara kubu Romi memilih merapat di KIH.