Gerindra Bergeming Oposisi

529

Keseriusan Gerindra ini wajar mengingat Gerindra pada waktu yang lalu adalah motor penggerak KMP yang mengusung Prabowo-Hatta maju sebagai calon presiden dan wakil presiden Indonesia periode 2014-2019. Bahkan kekalahan Gerindra di KPU sebagai lembaga penyelenggara pemilu yang berhak mengumumkan pemenang pemilu ditolak oleh Gerindra saat calonnya dinyatakan kalah. Langkah hukum pun ditempuh dengan mengajukan gugatan ke MK yang berujung penolakan.

Sikap legawa (besar hati) Prabowo Subianto kemudian mengakhiri babak pertama kosntelasi politik dua kubu antara KMP dan KIH dalam pesta demokrasi Indonesia 2014. Babak baru pun dimulai dengan sikap KMP yang menyatakan melanjutkan koalisi di tubuh parlemen. Namun seiring berjalannya era kepemimpinan Joko Widodo satu per satu anggota koalisi merah putih melepaskan diri. Kondisi ini tak menyurutkan niat Gerindra untuk tetap menjadi oposisi pemerintah. Seperti sejatinya kala itu berduel dalam pemilu presiden silam.

Sikap Gerindra memilih bertahan merupakan harga diri mengingat Gerindra adalah aktor utama di dalam percaturan politik sengit tanah air. Jelas dalam sewindu partai yang mulai mengepakkan sayapnya adalah harapan setiap langkah menuju keluwesan berpolitik. Pilihan menjadi oposisi adalah wujud konsistensi partai. Meski sejatinya dalam berpolitik selalu menawarkan ’ketidakpastian’ tergantung pada saat bagaimana harus mengambil sikap seperti apa.

Jika pilihan Gerindra adalah tetap dalam barisan ’penyerang’ pemerintah. Pekerjaan besar menghadang Gerindra. Menyisakan PKS sebagai kawan satu-satunya dalam koalisi yang secara de jure belum bubar. Energi besar diperlukan untuk mempertahankan sikap yang bisa disebut gentleman ini. Apalagi 2019 masihlah cukup lama dan pemerintahan era Jokowi tengah menunjukkan eksistensinya.

Untuk mendapatkan simpati masyarakat, Gerindra akan cukup kesulitan dan membutuhkan tenaga yang ekstra karena sendirian. Bukan tidak mungkin hanyalah Gerindra yang ke depan sebagai satu-satunya oposisi. Sikap yang sama dipilih PDI Perjuangan saat dua periode era Soesilo Bambang Yudhoyono berkuasa. Kini partai Gerindra dihadapkan pada situasi yang mirip. Tantangan besar ini wajib disikapi arif sekaligus berani oleh para kader partai. Partai di umur sewindunya harus mampu menggenjot mesin partai lebih kuat dan mengajak para kadernya kian militan.