Penderita Diare Juga Meningkat

517
TEMUI PASIEN: Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu saat mengunjungi RSUD Kota Semarang, kemarin. (JPG)
TEMUI PASIEN: Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu saat mengunjungi RSUD Kota Semarang, kemarin. (JPG)
TEMUI PASIEN: Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu saat mengunjungi RSUD Kota Semarang, kemarin. (JPG)
TEMUI PASIEN: Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu saat mengunjungi RSUD Kota Semarang, kemarin. (JPG)

SELAIN Demam Berdarah Dengue (DBD), pada musim penghujan saat ini yang perlu diwaspadai adalah penyakit diare. Sejak Januari 2016 lalu, tercatat jumlah penderita diare antara 3.000-4.000 orang.

”Di Kota Semarang jumlah penyakit diare sangat tinggi dan itu merupakan penyakit yang ada setiap tahunnya,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, dr Widoyono, kemarin.

Dia mengatakan, penyakit diare itu merupakan penyakit yang ada sepanjang tahun, tetapi untuk tahun ini jumlahnya meningkat. ”Penyakit diare itu penyakit sepanjang tahun,” katanya.

Widoyono menjelaskan, penyakit tersebut dipengaruhi oleh lingkungan dan perilaku masyarakat, mulai air minum, jamban, dan sampah. Untuk itu, dirinya mengimbau agar masyarakat memperhatikan lingkungan dan kebersihan.

”Kasus diare di Kota Semarang masih tinggi, untuk itu masyarakat disarankan untuk memperhatikan masalah air minum, kebersihan, cuci tangan, dan lainnya,” ujarnya.

Namun, akunya, dari tahun ke tahun jumlah kasus diare di Kota Semarang mengalami penurunan, tetapi tidak signifikan. Hal itu karena cukup sulit merubah perilaku masyarakat. ”Dari tahun kemarin menurun, tapi belum signifikan, tidak bisa cepat, karena perilaku,” katanya.

Direktur RSUD Kota Semarang, Susi Herawati menambahkan, jumlah pasien diare mengalami kenaikan terutama anak-anak. Bahkan mereka terpaksa dirawat di lorong RSUD. Meski demikian, pihak rumah sakit memang sudah menyiapkan tempat tidur lebih, sehingga semua pasien dapat ditangani. ”Diare kalau tidak segera ditangani bisa berakibat fatal, yakni bisa gagal ginjal,” ujarnya. (hid/aro/ce1)