REI Kembangkan Hunian Bagi PKL

787
MAKIN MAHAL: Sejak akhir Agustus lalu harga rumah dengan FLPP di Jawa Tengah naik sebesar Rp 8 juta. Susahnya mencari lahan untuk membangun rumah dengan FLPP ini menjadi salah satu penyebab naiknya harga rumah bersubsidi tersebut. (IST)
MAKIN MAHAL: Sejak akhir Agustus lalu harga rumah dengan FLPP di Jawa Tengah naik sebesar Rp 8 juta. Susahnya mencari lahan untuk membangun rumah dengan FLPP ini menjadi salah satu penyebab naiknya harga rumah bersubsidi tersebut. (IST)

SEMARANG – Rumah subsidi akan segera dapat dinikmati oleh pedagang kaki lima (PKL) di Semarang. Pembangunannnya akan dilaksanakan oleh pengembang dari Real Estate Indonesia (REI) Jawa Tengah dengan sistem angsuran harian.

Ketua Badan Diklat DPP REI Jateng Sudjadi mengatakan, sejauh ini kalangan pedagang kaki lima kerap kali kesulitan saat akan membeli rumah dengan sistem Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Alasannya, para pedagang ini dinilai belum cukup bankable.

“Mereka berdagang di pinggir jalan dengan gerobak atau warung tenda biasa. Lalu agunannya apa. Padahal, mereka juga butuh rumah dan dengan penghasilannya juga rata-rata mampu untuk menyicil rumah,” ujarnya, kemarin.

Selain itu, potensi pedagang kaki lima ini juga dinilainya cukup besar. Di Semarang saja, yang terdaftar dalam paguyuban ada sekitar 3.000 PKL. Bila 50 persen dari jumlah tersebut, berminat untuk membeli rumah subsidi, maka merupakan pasar yang potensial. “Sejauh ini sudah hampir 300 PKL di kawasan Simpanglima yang mendaftar ke saya,” jelasnya.

Untuk sistem pembayarannya, menggunakan sistem angsuran harian. Angsuran tersebut akan dikumpulkan pada masing-masing ketua kelompok PKL, untuk kemudian disetorkan ke bank tiap harinya. “Sehari mengangsur Rp 30 ribu. Kalau sebulan itungannya 25 hari kerja, berarti kira-kira sebulan mereka nyicil Rp 750 ribu,” sebutnya.

Kredit dari mereka yang non bankable ini diakuinya juga berisiko akan kredit macet. Kendati demikian pihaknya tetap optimis membangun rumah yang dapat dicicil oleh PKL. Oleh karena itu, sebagai tahap awal, pihaknya lebih menyasar kepada para pedagang yang berjualan di kawasan Simpang Lima. “Kami ambil lokasi yang strategis, di sana kan transaksi jual beli juga cukup kencang,” bebernya.

Sedangkan lokasi yang nantinya akan dibangun, lanjutnya, masih tetap dalam Kota Semarang, hanya saja kawasan pinggiran. Lahan yang tersedia, ada sekitar 8 hektar, namun tidak semua untuk pembangunan rumah sederhana bagi PKL. “Kemungkinan antara 300-400 unit rumah sederhana yang akan kami bangun untuk PKL di lahan tersebut,” tandasnya. (dna/smu)