Tersangka ’Santriwati Aborsi’ Tak Ditahan

3105

SEMARANG – Penyidikan kasus dugaan aborsi yang dilakukan oleh seorang santriwati salah satu pondok pesantren (ponpes) di Jalan Ketileng Raya, Tembalang, Semarang, masih terus berlanjut. Saat ini, penyidik Unit Reskrim Polsek Tembalang masih fokus untuk mengumpulkan informasi, baik dari pihak santriwati berinisial NLM, 20, warga Pusakajati, Kabupaten Subang, Jawa Barat, maupun DYA, 24, warga Desa Ledokdawan, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan. Selain itu, penyidik juga memburu penjual obat yang dibeli DYA untuk menggugurkan kandungan NLM, pacarnya, yang sudah berusia 7 bulan.

Kapolsek Tembalang Kompol Ibnu Bagus mengatakan, hingga saat ini pihaknya masih meminta keterangan dari pihak santriwati berinisial NLM. Pelaku aborsi itu sendiri masih menjalani rawat jalan di RSUD Kota Semarang.

”Proses hukum masih berjalan, kami akan terus kembangkan dengan meminta keterangan dari pihak wanita. Kamis (25/2) nanti (besok) kami akan kirim surat penyidikan,” katanya saat dihubungi wartawan lewat telepon, Selasa (23/2) siang.

Lebih lanjut dikatakan, keterangan dari pihak NLM tersebut nantinya akan dikroscek dengan keterangan dari tersangka DYA yang tak lain adalah kekasih NLM. Kemudian akan dikembangkan lagi guna memburu penjual obat yang digunakan untuk menggugurkan kandungan. ”Untuk penjualnya belum kami mintai keterangan. Masih fokus ke pihak wanita dulu, dan tersangka DYA. Baru nanti kami akan kembangkan lagi,” jelasnya.

Ibnu menambahkan, pihaknya tidak melakukan penahanan terhadap tersangka DYA. Tersangka hanya diharuskan wajib lapor ke Polsek Tembalang. Hal itu diberlakukan lantaran tersangka kooperatif. Terlebih barang bukti dalam perkara dugaan aborsi tersebut sudah disita oleh penyidik. ”Hanya wajib lapor saja,” ungkapnya tanpa menyebutkan berapa kali tersangka harus menjalani wajib lapor.

Seperti diberitakan sebelumnya, kasus dugaan aborsi yang dilakukan santriwati tersebut diketahui pada Rabu (10/2) lalu. Kasus tersebut mencuat setelah adanya informasi terkait salah satu pasien di RSUD Kota Semarang yang dirawat lantaran mengalami pendarahan serius. Pendarahan tersebut diduga akibat aborsi ilegal dengan meminum obat yang dibeli oleh tersangka DYA.

Dalam perkembangannya, penyidik berhasil menemukan barang bukti berupa orok bayi yang disembunyikan di dalam jok sepeda motor matic milik DYA. Selain itu, polisi juga menyita obat yang diduga dibeli oleh DYA dan diminum oleh NLM hingga mengakibatkan pendarahan dan keguguran. Praktik tersebut dilakukan di ponpes tempat santriwati tersebut menimba ilmu. (mha/aro/ce1)