Polda Gerebek Gudang Pupuk Ilegal

Omzet Rp 100 Juta/Bulan

844
GELAR PERKARA : Kasubdit Indagsi I Ditreskrimsus Polda Jateng, AKBP Egy Andrian Suez saat gelar perkara di Mako Ditreskrimsus Polda Jateng, Selasa (21/11) kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
GELAR PERKARA : Kasubdit Indagsi I Ditreskrimsus Polda Jateng, AKBP Egy Andrian Suez saat gelar perkara di Mako Ditreskrimsus Polda Jateng, Selasa (21/11) kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG-Aparat Polda Jateng menggerebek gudang ribuan kemasan pupuk cair ilegal di Dusun Kuwu Kecamatan Dempet Kabupaten Demak, Kamis (16/11) lalu. Padahal sebelum terungkap, pabrik tersebut telah menghasilkan omzet Rp 100 juta perbulan.

Penggerebekan tersebut berawal dari informasi masyarakat terkait beredarnya pupuk cair dalam kemasan botol di daerah Pantura, termasuk Demak. Setelah ditindaklanjuti, petugas berhasil menemukan tempat pembuatan pupuk tersebut.

“Pelaku memproduksi dan memperdagangkan pupuk yang belum memiliki izin edar dari Kementan RI. Selain itu, isinya tidak sesuai dengan komposisi pada label kemasan,” ungkap Kasubdit Indagsi I Ditreskrimsus Polda Jateng, AKBP Egy Andrian Suez saat gelar perkara di Mako Ditreskrimsus Polda Jateng, Selasa (21/11) kemarin.

Hasil penggerebekan tersebut, petugas Ditreskrimsus Polda Jateng berhasil menyita ribuan kemasan pupuk cair dan serbuk siap edar ilegal. Selain itu, petugas juga telah mengamankan seorang bernama Alfan Junaidi alias AJ, 42, sebagai pelaku dan pemilik pupuk car ilegal dari CV Randu Aji.

Barang bukti pupuk cair dalam kemasan botol tersebut diberi merek NPK, Bio Trubus, Antonik, Raja Muda, Goming, Abimix, Z-Pro, Autogrow, Topzinc, King Flower, Hormon B, Extra Flower, Nutrece, Kalsium Super, Raja Ijo, Padi Mas MKP dan Herba Green. Bahkan ada Miyabi, Bonek dan juga Autogrow. “Kalau merek ini dari pelaku sendiri. Asal, semaunya pelaku dan bukan merek paten. Padahal tulisan komposisinya macam-macam, tapi isinya sama,” jelasnya.

Egy juga menerangkan, pelaku memproduksi dan mengedarkan pupuk secara ilegal ini sejak tahun 2010 silam. Peredarannya mencakup wilayah Pantura, mulai Demak, Purwodadi, Kendal dan termasuk daerah Cepu. “Ada ribuan kemasan siap kirim, ada yang cair dan serbuk. Ada salesnya juga yang datang dan menjual,” katanya.

Menurut keterangan pelaku, lanjut Egy, dari hasil penjualan, pelaku memperoleh omzet hingga ratusan juta rupiah dalam sebulan. Sedangkan pupuk dalam kemasan tersebut dijual kisaran harga mulai Rp 20 ribu sampai Rp 60 ribu. “Ada kemasan kecil dan besar. Omzet penjualan sekitar Rp 100 juta perbulan, keuntungan bersih Rp 20 juta karena dipakai untuk operasional dan membayar karyawan,” bebernya.

Ribuan kemasan pupuk cair dan serbuk ilegal tersebut sebenarnya isinya sama. Bahan baku pembuatan pupuk tersebut dari fregmentasi tumbuh-tumbuhan dan limbah organik tebu.¬†“Apabila tahun ini tidak laku, diganti merek lagi. Hal itu untuk mengelabuhi konsumen agar tertarik dengan merek baru. Sedangkan isinya ya sama saja,” terangnya.

Sesuai aturan yang berlaku, kata Egy, pembuatan dan penjualan pupuk harus ada parameternya dan tahapan uji sebelum diedarkan. Sehingga pupuk yang dipakai tidak membahayakan baik lingkungan, tanah maupun tumbuh-tumbuhan. “Kenapa saya bilang ilegal,¬†karena pupuk yang beredar di seluruh Indonesia harus memiliki standar mutu terjamin dan ada labelnya. Untuk mengetahui terjamin atau tidak, ada uji lapangan dan uji efek rumah kaca,” katanya.

Dari kasus ini, pelaku dijerat degan Pasal 60 ayat 1 UU RI 12/1992 tentang sistem budidaya tanaman dengan ancaman pidana lima tahun dan denda Rp 250 juta. Selain itu, dipersangkakan pasal 62 UU RI 8/1999 tentang perlindungan konsumen, ancaman hukuman pidana lima tahun dan denda Rp 2 miliar. “Status AJ sudah ditetapkan tersangka. Nanti kami akan mengadakan uji laboratorium untuk mengetahui lebih jauh,” pungkasnya. (mha/ida)