PRPP Jateng Makin Tak Terurus

721

SEMARANG – Kondisi objek wisata Puri Maerakaca sebagai taman mini Provinsi Jateng, dinilai masih memprihatinkan. Semua daerah kabupaten/kota di Jateng memiliki anjungan di sana, tapi saying beberapa kondisinya tidak terurus.

“Bahkan, kondisi paling parah di anjungan Kabupaten Temanggung, yang sempat mengalami kebakaran pada 2014 lalu. Sudah hampir 3 tahun, bangunannya dibiarkan mangkrak,” kata anggota Komisi C DPRD Jateng, Muhammad Rodhi.

Belum ada upaya perbaikan dari Pemerintah Kabupaten Temanggung maupun pengelola Puri Maerakaca yang kini berganti nama menjadi Grand Maerakaca. “Anjungan Kabupaten Temanggung, yang pernah terbakar, sampai hari ini masih belum diperbaiki,” tegasnya.

Ia mengatakan bahwa saat menuju ke anjungan Kabupaten Semarang  lantai porselen cukup kotor. Kemudian, di anjungan Kota Salatiga, papan namanya lepas, lampu taman lepas.

Di anjungan Kabupaten Boyolali, suasananya tampak sepi. Di dalam bangunan rumah khas Boyolali itu kosong. Pun di anjungan Kota Tegal juga tampak senyap.

“Kolam di depan anjungan Kota Tegal juga mangkrak hingga ditumbuhi lumut. Terlihat kumuh. Di anjungan Kota Magelang, papan namanya sudah rompal. Catnya juga sudah memudar,” tambahnya.

Masih banyaknya anjungan yang tidak terurus menjadi pemandangan yang kurang bagus. Para pengujung mendorong kepada pemerintah untuk merawat anjungan dan miniatur rumah adat dari 35 kota/kabupaten di Jateng tersebut.

“Sayang kalau dibiarkan mangkrak. Apalagi kalau ada pengunjung yang pengin menginap di sini, pengin menikmati pemandangan malam  jadi kecewa,” ujarnya.

Ketua Komisi C DPRD Jawa Tengah, Asfirla Harisanto mengatakan, sebenarnya kawasan PRPP menyimpan potensi besar untuk menambah PAD Jateng. Tetapi karena kondisinya yang kurag menarik, akhirnya potensi besar tersebut tidak maksimal. Meskipun dalam beberapa tahun sudah menunjukan perubahan yang cukup bagus.

“Potensi itu harus dimanfaatkan, dikembangkan dan dikelola agar lebih menarik lagi,” katanya.

Politisi PDI Perjuangan ini juga menyorot keberadaan Maerokoco yang hanya diisi miniatur rumah adat di Jawa Tengah. Karena, pemerintah kabupaten/kota juga tidak bisa mewawat sehingga keberadaan rumah adat tersebut terabaikan. Bahkan, banyak rumah adat yang kondisinya rusak parah dan justru bisa merusak keindahan PRPP.

“Kalau kami inginya bisa dirubah menjadi resort area, bisa tetap menggunakan rumah adat. Manfaatnya akan jauh lebih banyak dan bisa menambah pemasukan,” ujarnya. (fth/zal)