Hingga November 6 Kasus Kematian Ibu

976

SALATIGA – Dalam upaya menekan angka kematian ibu dan anak yang masih
fluktuatif, Dinas Kesehatan Kota (DKK) Salatiga mengadakan pertemuan peningkatan koordinasi kelompok sayang ibu dan bayi (KSI) di aula
Kecamatan Sidomukti. Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi ( AKB ) merupakan indikator status kesehatan masyarakat.

Di Salatiga sampai bulan November 2017 sudah terdapat 6 kasus kematian ibu yang berasal dari 6 kelurahan berbeda. Tahun sebelumnya 2016, hanya terdapat 4 kasus. Sementara untuk kasus kematian bayi sampai dengan bulan yang sama di tahun 2017 sudah terdapat 26 kasus. Sedangkan di tahun 2016 terdapat 39 kasus dan tahun 2014 terdapat 35 kasus kematian anak.

Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Salatiga, M. Marhadi dalam laporannya menyampaikan, pertemuan tersebut sebagai ajang saling bertukar pengalaman antarkelompok sayang ibu dan bayi dari 15 kelurahan.

Selain itu juga meningkatkan peran masyarakat dalam deteksi dini permasalahan ibu hamil, bersalin dan nifas. Juga dalam rangka memperkuat program Gubernur Jawa tengah yaitu 5NG (Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng).

Pada kesempatan yang sama Wakil Wali Kota Salatiga Muh. Haris mengingatkan kepada semua kader KSI, aparatur pemerintah termasuk juga PKK untuk terus berperan dalam meningkatkan status derajat kesehatan masyarakat. Salah satunya melalui deteksi awal permasalahan kesehatan ibu.

“Permasalahan AKI dan AKB ini selalu menjadi isu strategis baik di tingkat pusat maupun daerah. Bahkan di tataran internasional. Jadi saya berharap seluruh kader KSI, untuk terus berperan dalam pemantauan, pendampingan ibu hamil di wilayahnya sebagai ujung tombak deteksi dini permasalahan kesehatan ibu,” ujar Haris.

Haris juga mengharapkan keterlibatan aktif camat dan lurah untuk mengkoordinasikan pemecahan masalah kesehatan. Terutama kasus kematian ibu di wilayahnya. PKK sebagai masyarakat terdekat juga harus turut ambil bagian dengan mengambil sasaran ibu hamil melalui dasawisma,” ujar Haris sembari menambahkan dalam menangani ibu hamil berisiko tinggi menggunakan prinsip, satu anggota satu ibu hamil.  (sas/lis)