Sepekan Mengajar 24 Jam, Honor Rp 450 Ribu

Guru Tidak Tetap, Pahlawan Tanpa Tanda Sejahtera

1206

“Saat ini, saya mengajar kelas 4 Mas, tentu tantangan lebih berat dibandingkan mengajar kelas 2,” ujar almunus S1 Peternakan Unsoed Purwokerto, yang melanjutkan studi di Universitas Terbuka program studi Pendidikan Guru SD ini.

Ia berharap agar ke depan, minimal kesejahteraan guru honorer bisa lebih diperhatikan oleh Pemerintah Kabupaten Kendal. Sembari berharap ada pengangkatan PNS bagi guru dengan status seperti dirinya. “Saya harap ada peningkatan dari segi kesejahteraan,” harapnya.

Guru Bimbingan Konseling (BK) SMA Negeri 1 Semarang, Tulus Wardoyo, mengaku saat ini sebagian besar GTT hampir memenuhi syarat jam pelajaran. Suami dari Hanif Eka Setiani ini  mengakui biaya hidup memang besar, sementara penghasilannya sebagai GTT sangat minim. Tak heran, ia dan kebanyakan GTT lain memiliki pekerjaan sambilan, seperti emmberikan les privat, berjualan dan berbagai kerja sambilan lainnya.

“Kalau hanya mengandalkan gaji tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saat ini, gaji yang saya terima standar UMK+10 persen,” jelas Tulus Wardoyo kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (24/11).

Di luar itu, GTT tidak mendapat tunjangan,  kecuali THR. Namun semuanya kembali pada kebijakan masing-masing sekolah.

Mantan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP 10 November 1 Semarang ini mengaku bersedia mengajar sekalipun gaji sedikit, karena panggilan hati. Selain itu, passion­-nya adalah pendidik.