Farmasis Sebaiknya Punya Akses Peroleh Informasi Genetik Pasien

618
AHLINYA: Prof. Dr. Bob Wilffret memaparkan bidang farmakogenomik di depan peserta seminar. (IST)
AHLINYA: Prof. Dr. Bob Wilffret memaparkan bidang farmakogenomik di depan peserta seminar. (IST)

MUNGKID— Universitas Muhammadiyah (UM) Magelang menggelar seminar nasional di aula Fikes. Pembicaranya, profesor asal Belanda. Seminar yang digagas oleh Fikes UM Magelang ini bertema Implementation of Pharmacogenetics in Pharmacotherapy.

Sebanyak 150 peserta hadir dalam kegiatan ini. Mereka berasal  dari mahasiswa program D3 dan S1 Farmasi UM Magelang, beberapa dosen, dan perwakilan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Farmasi di wilayah Magelang.

Peserta lainnya berasal dari Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Kabupaten dan Kota Magelang, Akademisi UAD Yogyakarta, Persatuan Ahli Farmasi Indonesia (PAFI) Kabupaten dan Kota Magelang, dan praktisi apotek, rumah sakit, Puskesmas  di wilayah Magelang, Temanggung, serta Semarang.

Ketua Panitia Seminar, Imron Wahyu Hidayat, M.Sc, Apt, menyampaikan, seminar nasional ini merupakan kegiatan tahunan yang mendatangkan narasumber berkompeten dan berkualitas. Kali ini, menghadirkan Prof. Dr. Bob Wilffret dari Univesity of Groningen, Belanda,  yang fokus pada Farmakogenomik.

Dalam pemaparannya,  Prof. Dr. Bob Wilffret menjelaskan, farmakogenomik (pharmacogenetics) adalah bidang penelitian yang difokuskan pada pemahaman bagaimana gen mempengaruhi respons individu terhadap obat. Tujuan jangka panjang pada farmakogenomik adalah untuk membantu dokter memilih obat dan dosis yang paling cocok untuk setiap individu. Sehingga diharapkan dapat meningkatkan kekreatifitasan obat.

“Kondisi riil saat ini, praktik klinik yang menggunakan informasi farmakogenetik, masih jauh dari pelaksanaan.  Bahkan di negara maju sekalipun. Kendati demikian, terkadang kemajuan teknologi kesehatan dapat terjadi jauh lebih cepat dari yang diperkirakan, maka bukan tidak mungkin, aplikasi serupa sudah ada di depan mata. Kalaupun belum dapat diaplikasikan, pengetahuan ini sangat penting untuk dapat menjelaskan berbagai fenomena dalam masalah pengobatan.”

Prof Bob menyarankan agar farmasis sebaiknya memiliki akses untuk mendapatkan informasi genetik pasien. Tujuannya, untuk bisa memberikan pelayanan kefarmasian secara individual sebelum mereka menyiapkan resep.

Narasumber lainnya,  dua dosen  Farmasi UM Magelang. Yaitu, Tiara Mega Kusuma, M.Sc,Apt dan Setiyo Budi Santoso, M.Farm, Apt. Tiara menjelaskan tentang obat herbal. “Di dunia pengobatan yang paling banyak digunakan adalah pijit, alkupuntur, meditasi dan herbal,” kata Tiara.  Ia mengajak peserta– khususnya mahasiswa farmasi– untuk lebih melestarikan kembali obat-obat dari alam.

Sedangkan Setyo menekankan pada aplikasi herbal.  Menurut Setyo, dalam  pendayagunaan obat alam, ada beberapa faktor yang mendukung kecenderungan global untuk kembali menggunakan bahan-bahan alami sebagai terapi. Seperti harga obat sintetis mahal, efek samping obat sintetis, teknologi sediaan obat alam, dan faktor promosi. (vie/sct/isk)