Kerajinan Tangan Jadi Sumber Pendapatan

Desa Plumutan, Kecamatan Bancak 

1419
MENGANYAM: Salah satu warga Desa Boto sedang membuat kerajinan rogo-rege berupa piring. Kerajinan ini menjadi salah satu sumber pendapatan bagi warga desa Plumutan kecamatan Bancak
MENGANYAM: Salah satu warga Desa Boto sedang membuat kerajinan rogo-rege berupa piring. Kerajinan ini menjadi salah satu sumber pendapatan bagi warga desa Plumutan kecamatan Bancak

BANCAK – Desa Plumutan dikenal sebagai desa penghasil rogo-rege atau hasil kerajinan tangan berupa anyaman dari lidi. Hampir 90 persen warga Desa Plumutan, terutama yang berada di dusun Jatisari, memproduksi kerajinan ini. Bahkan Desa ini mengkalim sebagai satu-satunya Desa penghasil rogo-rege di Jawa Tengah.

Suji Haryanto Kepala Desa Plumutan mengatakan, kerajinan ini memang sudah ada sejak jaman nenek moyang dulu. Menginjak tahun 2000-an, perajin melakukan inovasi dan kreasi dengan membuat berbagai jenis kerajinan. Tidak hanya membuat peralatan makan, perajin mulai merambah ke kerajinan hiasan ruangan.

”Dulu mungkin hanya membuat piring dan beberapa peralatan rumah tangga saja. Tapi sekarang sudah membuat berbagai bentuk kreasi. Seperti tempat parsel, keranjang buah, tempat tissue, kap lampu dan masih banyak lagi,” jelas Suji saat ditemui di kantor Kepala Desa Plumutan.

Kades: Suji Haryanto. (SIGIT ANDRIANTO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
Kades: Suji Haryanto. (SIGIT ANDRIANTO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)

Hasil kerajinan rogo-rege bahkan sudah dikirim ke berbagai kota di seluruh Indonesia. Beberapa kota yang menjadi tujuan pengiriman hasil kerajinan ini adalah Jogja, Bandung, Jakarta, pulau Bali dan sejumlah kota lainnya. ”Sekali kirim itu bisa satu mobil. Bisa sampai 10.000-an biji . Kita kirimnya ke kota-kota itu tadi, mungkin dari sana bisa dikirim lagi ke luar negeri,” kata dia.

Dikatakan oleh Suji, pesanan produk rogo-rege kian meningkat setiap tahunnya. Saking banyaknya pesanan, warga Desa Plumutan kian sulit untuk mendapatkan bahan baku berupa lidi kelapa. Alhasil, para perajin harus mendatangkan lidi dari Bandung untuk memenuhi banyaknya pesanan rogo-rege.”Seminggu satu truk habis itu lidi, karena semakin banyak pesanan. Sehingga sekarang hampir semua penduduk di 7 dusun Desa ini membuat kerajinan ini untuk memenuhi pesanan,” jelasnya.

Kerajinan rogo-rege ini dinilai Suji memberikan pengaruh signifikan terhadap perekonomian warga. Selain itu, banyak warga yang dulunya pergi meratau untuk bekerja, dengan banyaknya pesanan ini, mereka kembali ke desa untuk menjadi perajin rogo-rege. Bahkan, pesanan kerajinan rogo-rege yang kian banyak membuat ibu-ibu di desa Plumutan menjadi lebih produktif.

”Ketika mereka pergi mengantar anaknya ke sekolah gitu mereka nggendong lidi, sambil menunggu anaknya sekolah mereka menganyam. Bisa dapat 30 piring. Bahkan anak-anak juga banyak yang membantu  membuat dasaran piring ketika pulang sekolah, setiap satuannya mereka diberikan 200 rupiah,” jelas Suji.

Untuk memasarkan hasil kerajinan ini, Desa Plumutan sering megikutsertakan produk rogo-rege warga dalam setiap pameran . Terakhir, produk ini dikenalkan kepada masyarakat luas saat ada acara di Candi Gedong Songo beberapa waktu lalu.

Komitmen untuk membesarkan Desa Plumutan melalui produk ini juga dilakukan dengan mencanangkan Desa wisata edukasi. Desa Plumutan membuka sejumlah paket wisata bagi para pengunjung untuk dapat memiliki keterampilan membuat kerajinan rogo-rege. ”Kami membuka paket wisata setiap orang dikenai biaya 30ribu dan minimal 10 orang. Nanti akan diajari cara membuat rogo-rege di Desa ini oleh para perajin yang ada. Selain itu, ada juga paket wisata religinya,” katanya.  (cr4/bas)