Rekam Perjalanan dan Promosikan Wisata Pengunungan

Melongok Aktivitas Komunitas Apala Jateng

944
KOMPAK : Anggota Apala meski berbeda profesi selalu kompak naik gunung dan melakukan promosi wisata pegunungan. (ISTIMEWA)
KOMPAK : Anggota Apala meski berbeda profesi selalu kompak naik gunung dan melakukan promosi wisata pegunungan. (ISTIMEWA)

Bukan hanya menikmati perjalanan. Anggota Komunitas Abal-Abal Pecinta Alam (Apala)ini juga mempromosikan wisata pengunungan, melalui rekam video dan foto-foto perjalanan pendakian. Seperti apa?

JOKO SUSANTO

KOMUNITAS Apala adalah komunitas pecinta alam yang anggotanya beragam. Mulai pelajar, mahasiswa, karyawan swasta, hingga buruh. Asal memiliki kepedulian yang sama terhadap alam dan berniat promosi wisata pengunungan, bisa menjadi anggota. Bahkan, anggota komunitas tidak hanya dari Semarang, melainkan dari berbagai daerah seperti Demak, Klaten, dan Blora.

Komunitas yang berdiri sejak 5 April 2015 lalu ini, namanya terbilang unik. Walau ada kata abal-abal, bukan berarti palsu, semu atau tak memiliki kepedulian alam. Justru kata-kata tersebut sangat filosofi, yakni semua anggota dalam mencintai alam semesta ini bukan hanya slogan atau abal-abalan semata. Makanya, komunitas bukan sekadar menghimpun mereka yang suka naik gunung, melainkan mengajak mereka promosi wisata melalui rekam perjalanan dan foto selfie.

Bagi anggota Apala, mendaki gunung bukan sesuatu yang melelahkan. Tetapi hobi dan tantangan yang harus dilewati. Makanya, mereka kerap berbarengan mendaki gunung, sekaligus menikmati keindahan alam pegunungan. Kini, Apala tercatat telah menjelajahi alam di beberapa pegunungan di Jateng, Jatim, maupun Jabar, di antaranya Gunung Slamet, Merapi, Semeru dan Tangkuban Perahu.

“Anggota kami sekarang ada 20 orang. Kami akui, mendaki gunung semula memang terlihat melelahkan. Tapi setelah sampai di puncak pegunungan, rasa lelah itu seolah terbayar lunas dengan bisa menikmati pemandangan dari puncak pegunungan,” kata pendiri sekaligus Koordinator Apala Jateng, Indra Agus Setiawan kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (27/11) kemarin.

Bagi Indra, pengunungan Indonesia menawarkan pesona bentang alam hijau  dengan keindahan yang luar biasa. Tidak mengherankan, bila Indonesia dikatakan sebagai zamrud katulistiwa. “Kami melihat segudang potensi wisata pengunungan yang sudah dimilki negara ini. Tapi saying, belum dikelola dengan maksimal,” ujarnya.