7 Tanggul Jebol Sepanjang Musim Penghujan

585

SEJAK memasuki musim penghujan, awal November, sudah ada tujuh tanggul di Jateng yang jebol. Tanggul itu diperkirakan tidak kuat menahan debit sungai yang terus penuh akibat tingginya intensitas hujan. Dampaknya, air sungai meluap dan membanjiri permukiman warga.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air Dan Penataan Ruang (Pusdataru) Jateng, Prasetyo Budhie Yuwono menjelaskan bahwa tanggul-tanggul sungai yang jebol itu berada di lima kabupaten dan kota, antara lain di Kota Semarang, Grobogan, Klaten, Cilacap, dan Wonogiri.

Di Kota Semarang terjadi di Kauman Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu, pada 22 November. Akibat hujan lebat di Daerah Aliran Sungai (DAS) Beringin, air melimpas mengakibatkan talud tanggul kanan ambrol sepanjang 15 meter, menggenangi permukiman RT 02 RW III sebanyak 217 KK, tinggi genangan 50 – 80 sentimeter.

Di Grobogan, terjadi di Mayahan Kecamatan Tawangharjo pada 17 November. “Banjir bandang, mengakibatkan Saluran Irigasi Dumpil jebol sepanjang 5 meter, menggenangi sekolahan dan tempat ibadah serta areal pertanian 23 hektare tanaman padi umur 24 hari,” ucapnya, Jumat (1/12) kemarin.

Selain itu, pada 22 November di Kemloko Kecamatan Godong, intensitas hujan tinggi mengakibatkan tanggul jebol di Sungai Jajar Baru sepanjang 7 meter dengan lebar 5 meter setinggi 5 meter. Dampaknya menggenangi 25 hektare sawah yang ada tanaman padi umur 20 hari.

Di Klaten, pada 14 November terjadi hujan intensitas tinggi mengakibatkan tanggul jebol di Pogung, Kecamatan Cawas, di Sungai Cino sepanjang 5 meter, lebar 4 meter, menggenangi areal pertanian seluas 7 hektare.

Tanggul di Klaten juga jebol pada 28 November di Sungai Dengkeng sepanjang 50 meter. Hal itu membuat Desa Talang Bayat dan Desa Bawak Cawas Klaten banjir.

Di hari yang sama, di Karangasem Kecamatan Cawas Klaten, intensitas hujan tinggi mengakibatkan tanggul Sungai Gamping jebol di 2 titik. Antaralain di Desa Burikan sepanjang 4 meter dengan lebar 3 meter. Di Desa Karangasem, panjang 2 meter dengan lebar 3 meter menggenangi areal pertanian.

Di Kabupaten Cilacap, tanggul jebol terjadi di Sungai Cibaganjing pada 15 November, di Desa Madura, Wanareja. Kemudian di Wonogiri, terjadi jalan penghubung antar desa terputus karena jembatan terseret arus di Bakalan, Tukulrejo, Kecamatan Giriwoyo pada 28 November di Sungai Sambilengek.

Prasetyo menjelaskan, sejumlah sungai tersebut jebol karena debit air yang besar karena intensitas hujan cukup tinggi. Dampaknya air membanjiri permukiman dan lahan pertanian. “Intinya, penanganan darurat sudah dan sedang kami lakukan pada tanggul yang jebol itu,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng, Sarwa Pramana mengimbau agar warga selalu waspada terjadinya banjir bandang. Jika saat hujan deras tapi debit air di sungai tidak meluap, berarti ada potensi terjadi banjir bandang.

“Kalau air sungai tidak naik pas hujan, berarti ada yang menghambat air sungai di atas. Kalau hambatan itu tiba-tiba jebol, bagian bawah akan kena banjir bandang,” jelasnya.

Karena itu, dia mengimbau agar warga menyelamatkan diri saat terjadi banjir bandang atau tanggul jebol. Sebab, dikhawatirkan jika tidak segera menyelamatkan diri, akan terseret arus sungai.

Untuk pengaman, pihaknya telah mengerahkan personel hingga tingkat kecamatan. “Kami mengerahkan kekuatan penuh. Menerjunkan personel sampai ke tingkat kecamatan. Logistik juga sudah disiapkan. Agar ketika dibutuhkan, bisa langsung disalurkan,” tegasnya. (amh/ida)