112 Guru Belajar Menulis Artikel Populer

1311
SEMANGAT MENULIS: Peserta pelatihan menulis artikel populer di media massa berfoto bersama usai kegiatan di Gedung LPMP Jawa Tengah, kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SEMANGAT MENULIS: Peserta pelatihan menulis artikel populer di media massa berfoto bersama usai kegiatan di Gedung LPMP Jawa Tengah, kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG- Minat guru untuk menulis artikel populer di media massa semakin tinggi. Apalagi menulis artikel menjadi salah satu syarat kenaikan pangkat atau golongan bagi para guru. Hal ini mendorong Jawa Pos Radar Semarang kembali menggandeng Pusat Pelatihan Guru (PPG) Jawa Tengah untuk menggelar pelatihan menulis artikel populer di media massa gelombang 7 yang digelar di gedung LPMP Jawa Tengah, Jalan Kyai Maja, Srondol, Sabtu (2/12). Pelatihan yang dibuka Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Semarang, Arif Riyanto ini diikuti 112 guru mulai SD, SMP, hingga SMA/SMK di Jawa Tengah.

Sebagai narasumber Redaktur Pelaksana Jawa Pos Radar Semarang, Ida Nor Layla dan Pengelola Pusat Pelatihan Guru Jawa Tengah, Ardan Sirajuddin. Selain itu, hadir pengasuh rubrik “Klinik Hukum” di Jawa Pos Radar Semarang, Dini S Purwono yang menyampaikan materi perlindungan hukum profesi guru, serta perwakilan dari STIKES Ngudi Waluyo Ungaran.

Pada sesi pertama, Ida Nor Layla, menjelaskan jika menulis sebenarnya bukanlah hal yang sulit, namun para guru biasanya kesulitan untuk menulis lantaran belum terbiasa untuk menuangkan gagasan atau ide ke dalam bentuk tulisan. “Dalam menulis, prinsipnya adalah senang dulu, yakin, dan mau bekerja keras serta belajar. Tentunya butuh kebiasaan agar bisa menjadi penulis,” katanya dalam pelatihan yang disupport Pocari Sweat tersebut.

Dalam kesempatan itu, Ida memberikan waktu 10 menit kepada seluruh peserta untuk membuat judul artikel dan permasalahan yang akan ditulis secara singkat maksimal 5 baris. “Silakan tulis permasalahan apa yang sekarang ada di pikiran bapak-ibu terkait dunia pendidikan dan pengajaran sehari-hari. Dari situ, nanti tinggal dikembangkan dalam bentuk artikel,” ujar Ida.

Dalam waktu 10 menit itu pun, para peserta langsung menyodorkan tema maupun permasalahan yang akan diangkat menjadi artikel populer. Misalnya, Lestari Ambar Sukesti, peserta asal SMA Negeri 1 Bergas yang mengangkat tema berbahasa Inggris menggunakan media WhatsApp. Lain lagi, Widiyorini dari SMA Negeri 3 Demak yang mengusung tulisan manfaat pembelajaran brainstorming dalam kegiatan belajar mengajar. “Kebetulan saya guru fisika, dan itu sudah saya praktikkan di siswa saya,” akunya.

Tema tulisan itu pun lantas dikembangkan dalam bentu artikel populer. Menurut Ida, kemampuan menulis, hampir sama dengan berlatih berenang. Teori saja tidak cukup, terpenting adalah praktik. Terlebih saat ini masuk dalam dunia digital yang mengharuskan para guru untuk memiliki kecakapan untuk menulis artikel berupa hasil penelitian atau opini yang bisa bermanfaat bagi khalayak luas.

“Menulis saat ini menjadi kebutuhan primer di era yang serba online. Dalam memulai menulis harus percaya diri dulu. Apalagi materi yang ditulis bisa hal-hal yang biasa terjadi di lingkungan para guru itu sendiri, seperti metode pembelajaran ataupun hasil penelitian,” jelasnya.

Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Semarang, Arif Riyanto, menerangkan jika kegiatan tersebut digelar sebagai langkah untuk memotivasi para guru untuk menulis opini di media cetak. “Kebetulan Jawa Pos Radar Semarang memiliki rubrik Untukmu Guruku yang menampung tulisan karya para guru. Sehingga diharapkan para peserta pelatihan bisa mengisi rubrik tersebut, sekaligus untuk mempraktikkan ilmu yang diperoleh dalam pelatihan,”harapnya.

Pengelola Pusat Pelatihan Guru Jawa Tengah, Ardan Sirajuddin, mengatakan, agar bisa dan terbiasa untuk menulis artikel perlu adanya dukungan serta rangsangan kepada guru untuk melakukan gerakan literasi sekolah melalui artikel yang dibuat oleh guru. “Gerakan literasi ini bisa dalam bentuk opini atau artikel yang memuat ide atau gagasan yang bisa dibaca orang lain atau minimal muridnya. Sehingga tulisan yang dibuat bisa memberikan pencerahan bahkan insiprasi bagi pembacanya,” jelasnya.

Kesulitan untuk menulis sendiri, lanjut Ardan, salah satunya adalah kesibukan dalam mengajar, belum lagi guru seakan tidak tahu bagaimana cara menulis bahkan ada guru yang menyerah karena berkali-kali artikel populer yang dibuat dan dikirimkan ke surat kabar tidak mendapatkan respons atau bahkan tidak dimuat. “Nah, lewat pelatihan dengan Jawa Pos Radar Semarang ini, ada jaminan tulisan bapak-ibu pasti dimuat. Karena itu, mohon dimanfaatkan betul,” katanya.

Selain itu, kata pria yang sehari-hari menjadi guru SMKN 8 Semarang ini, usai mengikuti pelatihan, diharapkan para guru akan lebih produktif dalam membuat tulisan opini pendidikan, sehingga bisa memberikan manfaat bagi orang lain. “Jika ide dan gagasannya bagus, tentu bisa dimuat di surat kabar. Sehingga menjadi contoh yang baik bagi siswa agar mau menulis, dan membantu kenaikan pangkat bapak-ibu semua,” ujarnya. (den/aro)